Kehilangan orang tua, bagi anak-anak yatim, pada hakikatnya bukanlah
sebuah kekurangan. Penegasan dari hal ini adalah, Rasulullah sendiri hidup
sebagai seorang anak yatim. Ayah beliau meninggal semasa dalam kandungan.
Ibundanya turut meninggalkannya di usia 6 tahun. Sungguh keadaan nabi yang
yatim tersebut telah meninggalkan sebuah fahaman mendasar bagi kita. Bahwa ia menjadi
semacam stempel atau tanda kemuliaan bagi anak-anak yatim, yang tanda itu tidak
akan pernah terhapus sampai kapanpun hingga hari kiamat.
Orang tua anak-anak yatim itu meninggal, adalah sebuah
takdir hidup yang jalannya kelak seperti apa, hanya Allah yang Mengetahui. Yang
pasti, mereka dimuliakan oleh Allah. Dengan segala hikmah yang hanya Allah saja
yang tahu, Allah ta’ala sendiri yang mengambil orangtuanya dari kehidupan anak
yatim itu. Maka ketentuan Allah selanjutnya adalah, penjagaan dan pembelaanNya
kepada anak-anak yatim itu menjadi lebih besar dari anak-anak umumnya. Salah
satunya, kita sudah sangat sering dengar peringatan keras di ayat ini, “Tahukah kamu siapa pendusta agama itu?
Yaitu mereka yang menghardik yatim” (QS. Al-Maun : 1-2)
Surat Al-Maun tersebut adalah bentuk pembelaan Allah kepada
anak-anak Yatim. Sebuah ancaman yang rasanya tidak ada lagi yang lebih
mengancam di atas itu. Sebaliknya, kasih sayang Allah kepada anak yatim juga
diwujudkan dengan jaminan kemuliaan dan pertolonganNya kepada siapapun yang
menolong anak Yatim. Begitulah, kemana-mana anak-anak yatim itu seakan berada
dalam “gandengan tangan” Ar-Rahman.
Berikutnya mari kita melihat sisi lain dalam kehidupan hari
ini. Sekelompok manusia dewasa sedang menghadapi tuntutan usianya. Mereka
bekerja lalu kelelahan, menghadapi masalahnya, memperjuangkan hidup, jatuh
sakit, kehilangan pegangan, berada dalam tuntutan status, atau sedang
disadarkan dosa lalu takut dengan konsekuensi dunia akhiratnya. Manusia dewasa,
seperti kita, menghabiskan banyak tenaga untuk itu semua. Diantaranya menjadi
pahala, kadang sia-sia, bahkan seringnya jatuh pada dosa.
Pada amal yang di forsir itulah kadang berpengaruh pada bagian
paling berharga dalam diri kita, yaitu hati. Ia mengeras, tak lagi lunak. Kalau
masih ada sisa kejernihan, akan terasa tak nyaman dengan kondisi hati yang
memar ini.
Saat itulah kita butuh penawar. Banyak cara untuk
melembutkannya kembali. Salah satunya nabi mengajarkan untuk menjumpai
anak-anak yatim dan mengusap kepalanya sebagai ungkapan kasih sayang.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah mengeluhkan kekerasan hatinya, lalu
Rasulullah saw berkata kepadanya, “jika engkau ingin hatimu menjadi lunak, maka
berilah makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Baihaqi).
Memang anak yatim hadir sebagai pribadi yang kelak
sebagaimana kita, akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri. Tapi ia juga
telah ditegaskan wahyu bahwa keyatimannya memberikan implikasi kepada orang
lain. Bahwa hakikatnya ia telah dipilih oleh Allah sebagai sarana kemuliaan
yang sakral bagi orang disekitarnya. Akan dimuliakan orang yang memuliakan anak
yatim. Sebaliknya, akan dihinakan mereka yang tak memuliakan anak yatim.
Kali ini kita akan mengingat ulang kedudukan-kedudukan
mereka. Belajar lagi tentang sikap-sikap lembut nabi terhadap mereka. Agar
makin besar kesadaran bahwa kita butuh kepada anak-anak Yatim itu. Wallahu A’lam Bisshowab


