Rabu, 20 Juli 2016

"PD" Bangun Mimpi

Kita percaya impianlah yang membuat kita bergerak dan semangat menjalani hidup. Kita menjadi bersedia menata kehidupan hari ini karena adanya sesuatu yang ingin diraih di masa depan. Sebaliknya, impian yang tak tergambar jelas, membuat hidup tidak bergairah. Kehilangan fokus sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Orang-orang yang impiannya tak tergambar jelas bukanlah yang tak menuliskan impiannya di kertas. Mereka mungkin tidak termasuk kelompok yang rajin menuliskan mimpi atau resolusinya lalu ditempel di cermin atau pintu kamar. Meski demikian mereka sudah menuliskan, menginginkan dan mengkomitmenkan impiannya di dalam kepala mereka. Kita bisa melihat dari antusiasme sikap, perilaku dan perkataannnya yang menunjukkan betapa ia merencanakan sesuatu di masa depan.
Tak tergambarnya impian masa depan lebih soal ketidakpercayaan diri. Ada sebagian orang yang sekedar membayangkan masa depan saja tidak berani. Mereka ragu dengan dirinya sendiri. Mereka tak pernah berfikir ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk dirinya sendiri dan orang lain di masa depan.

Lalu ada dua kelompok lain. Kelompok pertama, mencari pembenaran dengan beralasan terserah takdir. Abai dengan sunnatullah perencanaan sehingga kualitas hidupnyapun stagnan. Lalu kelompok kedua, mereka semangat bermimpi namun berpijak dipondasi yang salah. Entah belajar dari mana, tiba-tiba mereka menjadi seakan apriori terhadap konsep takdir, berlebihan menakjubi kekuatan pikiran, memformulasi rahasia alam sesuai nalar dan ilmu filsafat. Prinsip Tauhid bahwa Allah sebagai pemilik kuasa kehendak, pengatur mutlak (Al-Qayyum), dan fahaman mengenai tak dapat ditembusnya dinding takdir menjadi dipertentangkan. Mereka mengasumsi kekuatan diri melebihi batas kewajaran. Lalu akan ada yang lebih antusias melakukan meditasi, afirmasi, relaksasi, visualisasi. Sedangkan ibadah, sholat dan doa tak terlalu dikhusyuki. Kalau sudah begini,sejelek-jeleknya bersembunyi dibalik takdir, menjadi masih jauh lebih baik.

Percaya diri bermimpi tak harus memaksakan diri seperti itu. Bahkan sebenarnya, keimanan yang kita  miliki sudah cukup menjadi alasan mengapa harus percaya diri. Dengan alasan yang kalau boleh dibilang sederhana, bahwa hidup ini ada Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengatur, seorang mukmin akan merasa mantap untuk menata rencana-rencana masa depan. Lihatlah betapa sederhana dan mudahnya Allah memantapkan hati orang-orang yang jiwanya sudah dinaungi keimanan. Ketika Musa dan Harun ditimpa ketakutan saat mau mendatangi Firaun dan tentaranya, Allah hanya berfirman : "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (QS. Thahaa : 46)

Setelahnya Musa dan Harun menjadi tenang. Mereka memang tetap tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Allah tidak kabarkan kepada mereka tentang nasibnya dihadapan firaun.  Apakah ia akan menang atau kalah? Atau Allah berkehendak Musa terbunuh, Musa tidak tahu. Yang ia tahu pokoknya Allah melihat dan Allah mendengar. Itu saja, cukup. Maka mereka berdua melangkah mantap menuju takdir apapun yang akan terjadi di hadapan dengan keyakinan Allah bersama mereka.
Bayangkanlah, betapa senangnya memiliki hati seyakin nabi Musa dan sepupunya. Orang-orang yang kokoh tauhidnya, hanya diingatkan bahwa “Allah melihat dan Allah mendengar”, keberaniannya tumbuh memenuhi dadanya. Lalu lihatlah betapa iman bekerja luar biasa menjadikan hidup bersemangat, menyibak awan ragu dan putus asa, membuat optimis, tangguh, dan percaya diri menatap masa depan. Maka semoga Allah memberi kefahaman hikmah sebagaimana para nabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar