Rabu, 20 Juli 2016
Ibu, My Real Superhero
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
***
Lirik lagu “Ibu” yang dinyanyikan Iwan Fals sayup-sayur terdengar memenuhi gendang telinga. Salah satu rekan kantor menggunakan tembang “Ibu” untuk ring tone handphone-nya. Lagu yang mengusung “ruh” sedemikian kuat, syair nan menyentuh, hingga sanggup menancapkan rasa bersalah di kalbu setiap anak, lantaran tak akan pernah bisa membalas jasa-jasa ibunda.
Sosok ibunda memang begitu dimuliakan dalam ajaran Islam. Rasulullah menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu...” sebelum kemudian menambahkan “Ayahmu...” tatkala seorang sahabat bertanya siapa yang harus kita hormati dan muliakan. Kendati demikian, entahlah... betapa lisan yang hina dan jiwa yang kering ini, kerap terjerembab dalam perilaku yang justru membuat ibu kita nelangsa.
Tidak jarang, kita amat menyepelekan kehadiran dan peran Ibu. Padahal beliau rela mengorbankan apa saja, demi mendidik dan membahagiakan kita, anak yang hadir melalui rahimnya.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya dengan menyapihnya adalah tiga puluh bulan….” (Al-Ahqaf: 15).
Coba kita telaah diri sendiri. Tahun 2016 sudah memasuki bulan ke-7. Pertanyaan ini saya tujukan kepada para perantau, ataupun Anda yang sudah tidak tinggal serumah dengan ibunda. Pertanyaannya, “Kapan terakhir kali Anda menelepon Ibu?” “Sejak 2016, sudah berapa kali Anda berkunjung menemui Ibu?” “Seberapa sering Anda memikirkan bagaimana keadaan, kabar ibunda kita?”
Bagaimana? Sudah ada jawabannya? Terkadang, kita mengontak beliau hanya bila ada maunya. Ketika minta didoakan supaya lulus promosi jabatan, atau ketika cucu beliau (yang notabene anak kita) sedang menghadapi ujian akhir. Tidak ada yang salah dengan itu. Ibunda di belahan bumi manapun tentu bahagia, manakala anak dan keturunannya juga tengah berjuang meniti tangga sukses dunia. Hanya saja, coba kita cermati sekali lagi, mengapa kita tidak menghubungi beliau untuk menanyakan kabar? Apakah kabar ibu tak lagi penting dalam hidup kita?
Kita tengah tertawa terbahak-bahak, bergelimang uang dan kesuksesan, setelah mengadu nasib di kota impian. Kita bersenda gurau dengan istri yang cantik bin kinclong, berwisata kuliner di restoran mewah bersama anak, lantas... apa yang tengah dilakukan ibunda? Jangan-jangan, sosok di mana surga kita ada di telapak kakinya itu, tengah menangis. Ia menahan sakit, menahan rindu yang teramat sangat pada sang buah hati. Jangan-jangan, sosok yang rela bertaruh antara hidup dan mati kala melahirkan kita itu, tengah merintih, lantaran hina-dina yang bertubi-tubi menyerang dari para tetangga? Jangan-jangan, beliau senantiasa menangis dalam sujud malamnya, mendoakan agar kita bahagia dan sukses di tanah perantauan. Di balik tubuhnya yang kian ringkih, ibunda selalu menyimpan isak tangis, agar kita, anaknya, mengira beliau selalu baik-baik saja.
Begitukah?
Astaghfirullahal ‘adzim... Betapa dzolim diri ini, kita bersenang-senang, selfie sana selfie sini, memuaskan dahaga hedonisme dengan beragam hiburan urban yang memperdaya dan melemahkan iman... Sementara itu, ibu kita... ibu yang melahirkan dengan segenap daya dan cinta... beliau tertunduk dalam doa dan tangis, bermunajat segala kebaikan tentang kita, anak yang nyaris tak pernah berpikir tentang kabar sang ibunda.
Ridho dan doa orang tua adalah “senjata utama” untuk menggapai sukses akherat dan dunia. Ridho Allah bergantung pada ridho orang tua. Murka Allah juga bergantung murka orang tua. Senyampang Ibunda masih ada, tunjukkan bakti terbaik kita! Jangan sampai penyesalan itu hadir, manakala Ibu telah berpulang. Lalu kita sibuk berandai-andai, “Andai Ibu masih hidup, saya akan selalu menyayangi, hormat dan menyediakan semua kebutuhan dan keinginan beliau...” Ahhh....
Apabila orang tua sudah berpulang, masih ada bakti yang bisa kita lakukan. Ketika itu, datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Rasul shallallahu‘alaihi wa salam menjawab, “Ya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud: Ibnu Maja).
Merendahlah. Jangan pernah bangga dengan sesumbar, “Aku itu sudah mandiri, sudah tidak merepotkan ibu lagi! Malah saking mandirinya nih, aku sudah dua tahun nggak ketemu ibu.”
Apa itu sebuah “prestasi”? Apakah Ibu hanya kita temui ketika momen Idul Fitri? Sebegitu dahsyatnya dunia menghempaskan kasih sayang kita, hingga tak mau ambil pusing dengan kabar Ibunda?
Ketika kabar bahwa Ibu tengah sakit hingga diopname, apa yang kita lakukan? Hanya kirim SMS atau Whats App, ”Bu, maaf aku nggak bisa balik. Sedang banyak kerjaan. Aku transfer uang untuk nambah ongkos beli obat.”
Oh, aduhai... Ibunda tak hanya butuh uang transferanmu. Ibunda juga butuh kehadiranmu. Ambillah cuti. Kunjungi beliau. Berdekat-dekatlah. Pekerjaan yang engkau lakukan mati-matian, tak akan sanggup menggantikan penyesalan, manakala Ibumu harus menghadap Illahi.
Kita kerap malu ketika Ibu hadir di wisuda. Kita malu ketika Ibu menemani kita shopping atau jalan-jalan di mall. Coba kita ingat-ingat, pernahkah Ibunda kita merasa malu manakala menggendong kita yang ingusan dan ngompol ketika kecil? Tidak pernah! Malah ia bangga “memamerkan” kita ke semua orang di kampung.
Dalam pepatah jawa,
“Sak gedene kowe mbales jasane simbokmu, kui mung sak pucuk ireng-e kuku”
Sebesar apapun kamu membalas jasa ibumu, itu baru sebesar kotoran di ujung kuku. Mulai detik ini, tak ada lagi alasan untuk tak membahagiakan kedua orang tua. Dedikasikan hidup kita untuk memuliakan beliau. Jangan sampai kita bangga silaturahim ke bioskop, nonton superhero Batman Superman, tapi kita malah lalai dan ogah bersilaturahim dengan “the real superhero” alias “superhero sesungguhnya” dalam hidup kita. (*)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar