Rabu, 20 Juli 2016

Kapan "Gue" Hijrah!

Sebuah stasiun televisi sedang menyiarkan acara talkshow. Bintang tamunya adalah seorang artis yang “berubah”. Sang artis yang sebelumnya hidup dalam gemerlapnya dunia entertaint rela meninggalkannya menuju kehidupan yang lebih Islami. Dalam kisahnya, seringkali sang artis mengucapkan kata“hijrah”. Untuk mewakili perubahan hidup yang ia lakukan.

Segala puji bagi Allah, betapa Allah memberi petunjuk kepada para pemakmur tabung ajaib televisi ini dalam jumlah tak sedikit. Sepertinya sepuluh jari kita tak cukup merinci siapa-siapa saja mereka. Meskipun artis perusak moral masih jauh lebih banyak, tapi banyaknya para kaum idola yang mengambil pilihan berhijrah tetap sesuatu yang amat kita kagumi dan syukuri.

Sejatinya siapapun yang berani melakukan perubahan hidup menuju ketaatan pada Allah akan selalu mengundang kekaguman. Karena tak semua orang siap dengan konsekuensi dari hijrah yang ia pilih. Bila ada orang yang kita lihat dia ada tanda-tanda berhijrah, misal dari non-muslim menjadi muallaf, dari Islam abal-abal menjadi Islam yang taat, dari tidak biasa sholat jadi rajin ke Masjid, dari membuka aurat menjadi berhijab, dari buruk perangai menjadi baik akhlak, meninggalkan pergaulan teman-teman semaksiatnya, pastilah membuat kita bahagia. Melihat mereka, hati rasanya tenteram. Seakan-akan kita melihat betapa bangganya Allah kepada hamba sang Muhajir ini (orang yang berhijrah).

Meskipun demikian, tidak sedikit golongan yang mencibir dan membenci. Karena memang, ada tiga kelompok penilai dalam melihat orang berhijrah ini.

Pertama, orang jahat dan buruk imannya. Mereka adalah pelaku yang senang dengan kemaksiatan. Kelompok ini tidak suka apabila ada orang lain berubah menjadi lebih baik. Mereka ingin agar kemaksiatan dan keburukan yang ia lakukan juga dilakukan oleh orang lain. Gayanya sudah gaya setan, mencari teman untuk melakukan kemaksiatan. Sehingga mereka akan berkata, “Apa gunanya dia berhijrah”?

Kedua, orang baik dan kuat imannya. Mereka adalah orang-orang yang mendukung orang lain untuk berhijrah. Bahkan mereka adalah para pelaku amar makruf yang berjuang keras mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk hijrah kepada Allah. Mereka ingin agar kebaikan dan ketaatan yang ia lakukan juga dilakukan oleh orang lain. Sehingga mereka akan berkata, “Selamat datang orang-orang yang mendapat petunjuk”

Ketiga, orang baik tapi masih lemah imannya. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya hatinya masih hidup namun sakit. Dia memiliki iman, namun sayangnya masih lemah. Sehingga ia selalu terbawa dalam kelalaian dan sering jatuh pada kemaksiatan. Ia tahu yang dia lakukan salah, tapi lemahnya iman membuat ia belum ada kemantapan untuk bangkit dan berubah. Orang seperti ini kadang masih ada kejujuran dalam hatinya dengan berkata, “banyak yang sudah hijrah, kapan giliranku Hijrah?”.

Mungkin sebagian kita berada dalam kelompok ketiga ini. Dan juga pernah bertanya pada diri sendiri, “kapan giliranku Hijrah?”. Bila pertanyaan itu kembali muncul, semoga kali ini kita bisa menjawabnya dengan jawaban yang disukai Allah. Bukan disukai setan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar