Dalam pergaulan dan hubungan dengan makhluk (manusia), kita memperoleh bermacam-macam kesan. Kadang kesan itu baik, membuat kita semakin dekat dengan Allah. Seperti, mendengar ceramah-ceramah para mubaligh. Atau hati kita terkesan oleh perbuatan seseorang yang kita anggap inspiratif.
Kadang pula, dari pergaulan dengan makhluk juga menorehkan kesan buruk di hati kita. Torehan buruk itu ada dua. Pertama berasal dari orang lain yang sengaja mempengaruhi kita. Misalkan, diajak teman untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Allah. Jelas ini akan membuat hati kita menghitam.
Kedua, torehan buruk itu berasal dari hawa nafsu kita sendiri dan tidak ada hubungannya dengan orang lain. Misalkan, berjumpa dengan orang yang secara harta, keilmuan atau jabatan berada dibawah kita. Maka disadari atau tidak, hawa nafsu yang tabiatnya cinta kedudukan akan berusaha menggoreskan di hati kita rasa sombong dan meremehkan. Bila nafsu berhasil, jadilah pandangan kita terhadap orang tersebut berupa pandangan meremehkan. Sebaliknya juga, berjumpa dengan orang yang kaya dan berkedudukan. Tiba-tiba hawa nafsu kita mengajak kita untuk cari muka, bergantung, dan menghormatinya berlebihan kalau tak dibilang menjilat. Anda tahu, bersamaan dengan sikap cari muka ini, rasa bergantung kita kepada Allah akan menguap dari hati.
Kalau tidak dengan cara cari muka, hawa nafsu akan meniupkan rasa iri dan dengki kepada orang yang kita lihat lebih daripada kita. Cari muka dan mendengki, kedua-duanya sama-sama perangai orang kurang iman.
Ada pula kesan lain yang muncul saat berinteraksi dengan makhluk. Yaitu pergaulan dengan mereka berpotensi menggeser orientasi hidup kita. Hal-hal yang masuk ke kepala dari mata kita, melihat jam tangan bermerk mereka, mobil mereka, busana mereka, kesenangan mereka, mendengar cerita-cerita kesuksesan mereka, kadang mengusik rasa ketawakkalan kita kepada Allah. Dalam keadaan ini, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Yang berhasil, mereka mungkin mengambil inspirasi untuk bergerak dan bangkit menjemput impian-impian kesenangan yang dihalalkan. Namun mereka tetap sadar bahwa semua kembali kepada takdir Allah. Cara bisa ditiru, tapi hasil belum tentu sama. Sesuai takdirnya.
Tapi ada banyak yang gagal. Yaitu mereka yang menanggalkan rasa tawakkal. Lalu mereka heboh seperti orang yang baru dibangunkan dari nyenyaknya tidur. Kenyamanannya selama ini dalam menerima ketentuan Allah, dianggapnya sebagai pilihan yang salah. Ya, semua diukurnya dengan ukuran dunia. Tidak mengukur dengan kebersihan hati. Mereka kehilangan qonaah. Mereka mengecewai takdir. Mereka semakin jauh dari Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar