Allahu Akbar..Allahu
Akbar..Allahu Akbar wa Lillahilhamdu. Pengagungan dan pujian setinggi-tingginya
kita panjatkan kepada Allah. Atas karunia disempurnakannya usia kita hingga
sanggup melintasi keberkahan bulan Ramadhan tahun ini. Bolehlah kita
mengingat-ingat kembali keutamaan-keutamaan yang Allah janjikan di bulan
Ramadhan : yaitu terhapusnya dosa, terangkatnya derajat takwa, dan pembebasan
api neraka.
Selanjutnya, andai kita terpilih sebagai
penerima anugerah itu (amiin), maka sepantasnya ada komitmen yang perlu kita
ikat dihadapanNya. Sebagai balasan mahluk kepada Penciptanya yang telah
mengasihi dan mengampuni. Yaitu komitmen ketaatan dan menjaga ketakwaan. Dengan
tidak lagi memperturutkan hawa nafsu. Dimana nafsu itulah yang melalaikan kita
dari Allah dan berkali-kali dibodohi oleh tipu dayanya.
Hal paling mendasar yang diperoleh
dari Ramadhan adalah keberhasilan menutup pintu utama dari hawa nafsu. Yaitu pintu
: Berkenyang-kenyang. Sebagaimana disampaikan oleh Imam Al-Ghazali bahwa pintu
masuknya syahwat hawa nafsu adalah adalah bermanja-manja memenuhi urusan perut.
Alias banyak makan. Hatta itu makanan halal.
Selama Ramadhan kita sudah
merasakan hikmah dari menahan lapar. Kalau mau memperhatikan keadaan diri lebih
detail, kita akan mendapati betapa lapar telah membuat kita menjadi pribadi
seutuhnya. Manusia merdeka dengan hawa nafsu yang tak lagi sepenuhnya berkuasa.
Memang sebagian kita akan mengeluhkan kondisi lapar menyebabkan menurunnya
produktifitas dan lemas. Tapi InsyaAllah, itu hanya di awal-awal saja, efek shock
dari melemahnya syahwat dan hawa nafsu. Sementara lihatlah bagaimana diri ini
lebih bisa mengontrol untuk menjauhi maksiat, mudah ingat kepada Allah, dan
beberapa orang berhasil merasakan nikmatnya penghambaan kepada Allah justru
saat kondisi lapar.
Memang sangat diragukan sekali
bahwa semua orang akan merasakan hikmah puasa seperti dikemukakan di atas. Tapi
semoga kita termasuk yang mendapat hikmah itu. Bukan yang merasa lega karena
berhasil keluar dari “tekanan” Ramadhan. Lalu kembali menjadi si tamak yang hoby
menampung segala makanan.
Semoga anda sudah merasakan
hikmah lapar. Bahkan mungkin saja lapar telah mengantarkan jiwa anda pada
suasana rendah dihadapan Allah, lalu andapun menjadikan lapar sebagai
kenikmatan. Bila demikian, selamat dan bersyukurlah. Semoga ini menjadi
pertanda Allah ridha terhadap Ramadhan dan seluruh kehidupan kita sebakda
Ramadhan. Lalu setelah itu pertahankan apa yang sudah susah payah kita raih itu.
Berkomitmenlah untuk tidak menjadi manusia yang terkenal hobi
berkenyang-kenyang. Jangan lagi manjakan perut. Jangan lagi memanjakan syahwat.
Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar