Rabu, 20 Juli 2016

Jangan Manjakan Perut

Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar wa Lillahilhamdu. Pengagungan dan pujian setinggi-tingginya kita panjatkan kepada Allah. Atas karunia disempurnakannya usia kita hingga sanggup melintasi keberkahan bulan Ramadhan tahun ini. Bolehlah kita mengingat-ingat kembali keutamaan-keutamaan yang Allah janjikan di bulan Ramadhan : yaitu terhapusnya dosa, terangkatnya derajat takwa, dan pembebasan api neraka.

Selanjutnya, andai kita terpilih sebagai penerima anugerah itu (amiin), maka sepantasnya ada komitmen yang perlu kita ikat dihadapanNya. Sebagai balasan mahluk kepada Penciptanya yang telah mengasihi dan mengampuni. Yaitu komitmen ketaatan dan menjaga ketakwaan. Dengan tidak lagi memperturutkan hawa nafsu. Dimana nafsu itulah yang melalaikan kita dari Allah dan berkali-kali dibodohi oleh tipu dayanya.

Hal paling mendasar yang diperoleh dari Ramadhan adalah keberhasilan menutup pintu utama dari hawa nafsu. Yaitu pintu : Berkenyang-kenyang. Sebagaimana disampaikan oleh Imam Al-Ghazali bahwa pintu masuknya syahwat hawa nafsu adalah adalah bermanja-manja memenuhi urusan perut. Alias banyak makan. Hatta itu makanan halal.



Selama Ramadhan kita sudah merasakan hikmah dari menahan lapar. Kalau mau memperhatikan keadaan diri lebih detail, kita akan mendapati betapa lapar telah membuat kita menjadi pribadi seutuhnya. Manusia merdeka dengan hawa nafsu yang tak lagi sepenuhnya berkuasa. Memang sebagian kita akan mengeluhkan kondisi lapar menyebabkan menurunnya produktifitas dan lemas. Tapi InsyaAllah, itu hanya di awal-awal saja, efek shock dari melemahnya syahwat dan hawa nafsu. Sementara lihatlah bagaimana diri ini lebih bisa mengontrol untuk menjauhi maksiat, mudah ingat kepada Allah, dan beberapa orang berhasil merasakan nikmatnya penghambaan kepada Allah justru saat kondisi lapar.

Memang sangat diragukan sekali bahwa semua orang akan merasakan hikmah puasa seperti dikemukakan di atas. Tapi semoga kita termasuk yang mendapat hikmah itu. Bukan yang merasa lega karena berhasil keluar dari “tekanan” Ramadhan. Lalu kembali menjadi si tamak yang hoby menampung segala makanan.

Semoga anda sudah merasakan hikmah lapar. Bahkan mungkin saja lapar telah mengantarkan jiwa anda pada suasana rendah dihadapan Allah, lalu andapun menjadikan lapar sebagai kenikmatan. Bila demikian, selamat dan bersyukurlah. Semoga ini menjadi pertanda Allah ridha terhadap Ramadhan dan seluruh kehidupan kita sebakda Ramadhan. Lalu setelah itu pertahankan apa yang sudah susah payah kita raih itu. Berkomitmenlah untuk tidak menjadi manusia yang terkenal hobi berkenyang-kenyang. Jangan lagi manjakan perut. Jangan lagi memanjakan syahwat. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar