Rabu, 20 Juli 2016

Al Qura'an Bicara Cinta

Cinta seharusnya dirawat dan tumbuh di lahan yang benar. Cinta tak seharusnya jatuh pada sesuatu yang buruk, kotor, dan merusak. Cinta bagi seorang mukmin, bukan hanya cinta antar manusia. Tapi yang lebih penting hubungan cinta hamba dengan Sang Pencipta. Betapa kalau kita mau menyederhanakan, sunngguh sebagian orang akan menemui Surganya kelak, karena cinta yang ada dihatinya. Juga sebagian yang lain menemui Neraka, juga karena cintanya.

Cinta ada di ruang rasa. Sementara rasa (atau perasaan), adalah sumber lahirnya sikap dan perbuatan. Orang akan melakukan sesuatu hal yang DIRASANYA nyaman dan enak. Sebaliknya, orang akan enggan melakukan sesuuatu hal yang DIRASANYA tidak nyaman dan tidak enak. Sehingga cinta adalah kendali utama dalam menentukan pilihan sikap dan perbuatan. Disinilah kekeliruan cinta akan berujung pada kehancuran. Sebagaimana Nabi Isa pernah berkata, “cinta dunia adalah pokok dari segala perbuatan dosa”.

Al-Quran, sebagai firman Allah subhanahu wa ta’la telah menjelaskan kepada kita tentang cinta. Bahkan sesungguhnya, semua keindahan dan keagungan ayat Al-Quran adalah manifestasi dari cinta itu sendiri. Ya, cinta Allah kepada hambaNya. Dalam wujud ia memberikan petunjuk keselamatan berupa diturunkannya wahyu yang berisi arahan, bimbingan, pengenalan Diri-Nya dan penjelasan hukum-hukumNya. Lalu dengan mengihlaskan diri hidup dibawah naungan Al-Quran, seorang hamba akan mendapati jalan keselamatan.

Bila kita mengamati isi yang tertuang dalam Al-Quran, kita akan mendapati empat dimensi cinta. Yaitu : cinta Allah terhadap makhluknya, cinta makhluk kepada Tuhannya, cinta makhluk kepada sesama mahluk, dan cinta makhluk kepada dunia.

Kita akan membahas dan merenungi secara singkat keempat cinta yang dijelaskan oleh Al-Quran tersebut. Dalam uraian-uraiannya akan nampak agak filosofis memang. Tapi semoga tak berujung pada kita mengernyitkan dahi. Semua inspirasi tema ini diambil dari kitab “Al-hubb fii Al-Quran” (cinta di dalam Al-Quran), karangan ulama kharismatik Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, semoga Allah merahmatinya. Dikisahkan, saat beliau mendaras karyanya ini, di hadapan ribuan jamaah pengajian rutin di masjid Ar-rifai Damaskus, banyak jamaah yang tersentuh dan menangis. Mereka merasa sedang dibimbing menemukan cinta sejatinya. Mereka merasa sedang ditelanjangi kebohongan cintanya kepada Allah. Mereka seakan sedang diobati keriduan fitrahnya. Perpaduan antara kedalaman hikmah dan kejernihan hati penyampainya, membuat hikmah itu masuk ke dalam relung hati para pendengarnya.

Seperti yang kita ketahui, bulan Ramadhan memiliki nama syahrul Quran, atau bulan Al-Quran. Bulan turunnya Al-Quran. Kita sebagai manusia hari ini, memaknainya sebagai momentum peningkatan interaksi dan kemesraan dengan Al-Quran.

Kemesraan kita kali ini dengan Al-Quran, akan kita gugah dengan melihat Al-Quran sebagai mata air cinta. Ia berbicara dalam segala bentuk hukum, perintah, larangan, ancaman, dan janjinya sebagai wujud cinta Allah kepada makhluknya. Semoga Allah memberikan petunjuk dan rahmatNya untuk kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar