Rabu, 20 Juli 2016

Udah Sya'ban, Ayo Latihan !

Tak terasa waktu telah mengantarkan kita kembali di depan pintu gerbang bulan Ramadhan. Bulan depan, InsyaAllah kita akan merasakan lagi nuansa keindahan dan kekhusyukan bulan suci. Siapapun yang hatinya ada keimanan, pasti akan merindukannya. Merindukan tarawihnya, buka puasanya, makmur masjidnya, qiyamullailnya, i’tikafnya, atau bahkan lapar dahaganya.  

Bulan sya’ban ibarat pintu gerbang bulan Ramadhan. Berada di bulan ini, bayangkanlah oleh kita sedang berada di depan pintu “tuan rumah” yang akan kita kunjungi. Kondisinya mirip ketika kita mau sowan ke rumah seorang alim yang disegani. Selama perjalanan mungkin kita masih berhambur dalam canda tawa dan sikap yang tak terjaga. Akan tetapi ketika kendaraan sudah berhenti di depan pintu gerbang. Tiba-tiba kita sigap menata diri. “sttt”, bisik teman kita, “jangan ramai, jaga sikap, kita sudah sampai”. Meskipun belum ditemui sang tuan rumah, kita sudah berlatih membawa diri, sibuk membetulkan jilbab dan pakaian, memperhatikan ulang penampilan, bahkan hal kecil sekedar memastikan ulang cara senyum sudah benar atau tidak juga kita perhitungkan.

Memahami bulan sya’ban juga semestinya demikian. Ianya adalah bulan latihan. Bulan persiapan menjelang perjumpaan dengan bulan agung bulan Ramadhan. Segala sesuatunya harus kita persiapkan mulai sekarang. Latihan itu sekarang, bukan menunggu Ramadhan datang. Sebab, harus dipertanyakan kematangan berfikirnya, apabila ada seorang tamu baru menata diri ketika tuan rumah sudah menerima kedatangan. Baru menyisir rambut, baru buka cermin dan pakai bedak, padahal sang tuan rumah sudah menunggu mulainya pembicaraan.

Adalah keliru besar apabila kita mendadak sholeh hanya ketika sudah masuk bulan Ramadhan. Biasanya menjadi baik secara mendadak tidak memberikan hasil apa-apa kecuali sedikit saja. Tidak bertahan lama. Sebab ia belum benar-benar menjadi sikap diri dan hanya sebatas hegemoni permukaan.

Sekali lagi jangan menunggu datangnya Ramadhan baru sibuk merubah kebiasaan. Untungnya Ramadhan adalah nama bulan, bukan sesosok orang. Andai Ramadhan adalah orang dan kita bertamu betulan dengan penampilan acak-acakan, maka sangat pantas kita terusir dan tersingkirkan. Ah, tiba-tiba kita jadi menghubung-hubungkan. Barangkali tak maksimalnya Ramadhan-ramadhan yang telah lalu, ada sebab kita yang kurang persiapan. Kita menjadi pecundang yang terusir dan tersingkir, justru saat orang lain bergembira dan bersemangat mengejar kebaikan. Karena di syakban, yang adalah halaman Ramadhan, kita masih bergumul dengan kelalaian.
Maka inilah syakban, ayo latihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar