Rabu, 20 Juli 2016

We were Brothers

Kalau kalimat judul di atas diberi penekanan dengan kata “sungguh”, tak lain ada dua alasan. Pertama, kalimat itu merujuk pada bahasa Al-Quran. Kalimat di atas adalah petikan firman Allah ta’ala yang terdapat dalam surat Al-Hujuraat ayat 10 : “Innamal mukminuuna ikhwah..Sungguh, mukmin itu bersaudara!”

Kedua, karena kata “sungguh” memiliki makna tersendiri. Yaitu, bermakna semacam sumpah atau dipakai untuk meyakinkan tentang suatu hal. Contoh : “sungguh, ini rasanya enak” atau “sungguh, aku sudah bilang jangan memilih itu”. Biasanya, pengucapan kata “sungguh” dilakukan karena sang pengucap melihat apa yang ia sampaikan rentan diragukan dan tidak dihiraukan. Sehingga iapun harus mengatakan “sungguh”. Di translate ke bahasa jawa, mungkin kita bisa merasakan muatan emosional dari kata sungguh ini : “tuenan”..”tuemen”. Tampak upaya untuk meyakinkan, bahkan upaya itu mungkin sudah berada di titik puncak dan hampir putus asa.

Andai pembaca tahu apa yang ada di hati penulis, seperti itulah perasaan kami ketika menuliskan catatan ini. Berangkat dari harapan yang besar terhadap ummat Islam hari ini. Agar persaudaraan atas dasar iman itu dijunjung tinggi di atas segala-galanya. Lalu demi persaudaraan, berkenan mengesampingkan perbedaan-perbedaan tak prinsip yang berpotensi memecah belah.

Ketahuilah, bahwa kita telah dipersatukan Allah dalam naungan laa ilaaha ilallah. Ya, pada hakikatnya Allah-lah yang membuat kita terlahir Islam, Allah-lah yang membuat kita bersyahadat. Anda tahu, bahwa Allah tak main-main dan tak sembarangan mentakdirkan anda hidup dalam barisan ummat Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Anda boleh berkhusnudzan, semoga ini adalah rencana baik Allah untuk memberi jalan kemudahan menuju keselamatan akhirat kita. Maka apa yang sudah dipersatukan Allah itu, jangan lagi kita justru cerai beraikan. Hanya karena persoalan perbedaan negara, bangsa, perbedaan mazhab, berbeda pandangan fikih, berbeda kelompok organisasi, lalu kita lupa bahwa laa ilaaha illallah telah meleburkan perbedaan itu semua.

Memang, kita tak bisa keluar dari perbedaan-perbedaan. Jangankan dengan orang lain, dengan istri sendiri saja kita sulit menyamakan semua persepsi. Kalau para sahabat nabi yang terjamin Surga itu sering terjadi perbedaan pendapat dan tak selalu satu suara, justru menjadi pembenaran bahwa Iman tak mensyaratkan keseragaman dalam urusan-urusan cabang (furu’iyah) dan ijtihad fikihnya.
Janganlah kita kehilangan rasa kasih sayang dan cinta kepada saudara seiman. Jangan mudah mencaci, melecehkan, mengkafirkan, menjadikan mereka banyolan, menyebut mereka orang konyol dan sebagainya. Demi Allah bila demikian yang terjadi, yang akan tertawa lebih lebar dan berbangga adalah mereka golongan orang yang membenci Islam. Karena tidaklah mereka menunggu kecuali kehancuran persaudaraan sesama Islam. Allah ta’ala berfirman : “(yaitu) orang-orang (kafir dan munafik) yang menunggu-nunggu (kekalahan) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin).” (QS. An-Nisa : 141)

“Sungguh, mukmin itu bersaudara”, seruan ini kami sampaikan dalam keadaan ingin tumpah air mata. Bagaimana tidak, ketika rasa persaudaraan atas nama Iman itu di uji oleh Allah dengan hadirnya saudara-sudara Rohingya tempo hari, kita hampir-hampir saja gagal melewatinya. Tak terbayang mau diletakkan dimana wajah mukmin kita, bila kaki-kaki kita ikut menendang dan menghalau mereka ke tengah-tengah samudra. Apakah kita sudah kehilangan nurani? Tak takutkah kita andai diantara mereka yang terdzalimi, yang tersakiti hatinya, dan dalam keadaan putus asa lalu Allah menolong mereka. Dan bentuk pertolongan Allah atas sakit hati mereka itu salah satunya adalah membuat perhitungan dengan bangsa Indonesia yang berbangga dengan kebesarannya. Naudzubillah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar