Rabu, 20 Juli 2016

Ayat Peruntuh "Galau" Rezeki

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezkinya,” (QS. Hud : 6).

Sebuah ilustrasi yang menyentak, ditulis oleh Imam hakim At’Tirmidzi dalam kitabnya “Adab Al-Nafs”. Beliau berkata : “Seandainya engkau memiliki buku catatan piutang teman-temanmu, si fulan punya hutang sekian puluh ribu dirham, si fulan ini sekian puluh ribu dirham, si fulan yang ini sekian puluh ribu dirham. Dan engkau kenal bahwa teman-temanmu ini adalah orang-orang sholeh yang amanah lagi kaya yang pasti mereka sanggup mengembalikan hutangnya Apa yang engkau rasakan?, pasti engkau akan tenang karena engkau merasa aman dengan harta yang tersimpan oleh teman-temanmu yang terpercaya. Harta itu terjamin pasti kembali ketika waktunya tiba. Engkau tutup buku catatanmu dalam keadaan tenang dan sumringah.

Lalu bukalah buku yang lain. Bukalah buku bernama mushaf Al-Quran. Bukalah lembaran-lembarannya. Lalu berhentilah sejenak di sebuah catatan yang berbunyi “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezkinya,” (QS. Hud : 6).
Apakah yang engkau rasakan membaca jaminan itu? Apakah kedudukannya dihatimu sama dengan catatan jaminan hutang teman-temanmu yang engkau yakini pasti terealisasi, apakah rasa tenang juga menyelimuti hatimu seperti tenangmu saat melihat catatan piutang, apakah engkau meyakininya sebagaimana meyakini catatan pitung? Atau justru sebaliknya, engkau tak merasakan apa-apa, ayat itu tak membekas dihatimu, tak menjadikan penenang gelisahmu akan rizki, engkau menutup mushaf al-Quran tanpa ada ketenangan dan kebahagiaan kecuali sedikit saja”

Kalau begitu, tutup Imam At-Tirmidzi, “tidakkah kamu malu kepada Allah dengan sikapmu itu!!”
Kalau mau mempraktekkan ilustrasi imam Al Hakim Tirmidzi, silahkan bandingkan perasaan kita antara ketika melihat buku rekening tabungan bank yang angkanya puluhan juta dengan saat membaca ayat-ayat janji jaminan rizki di dalam Al-Quran. Lebih menenangkan yang mana? Jaminan bank atau jaminan Allah?!
“kalau mahluk boleh protes, maka cicak paling merasa layak protes kepada Allah”, kata da’i kondang KH. Abdullah Gymnastiar. “bagaimana tidak, cicak makanannya nyamuk, nyamuk punya sayap sedang cicak tidak punya sayap, logikanya bagaimana mungkin cicak bisa dapat rizki makanan sedangkan makanannya bisa terbang kesana kemari, tapi buktinya cicak tidak mati kelaparan, cicak tetap bisa makan nyamuk!”.

Jujur saja, banyak manusia gagal meraih ketenangan hidup lantaran mengkhawatiri urusan rizki. Mereka mengurusi sesuatu yang hakikatnya bukan urusannya. Mereka tidak yakin dengan kepengurusan Allah dalam menjatah rizki untuk mereka.

Tak sepatutnya kita meragukan kekuasaan dan keadilan Allah dalam menebarkan rizki kepada hamba-hambaNya. Allah menciptakan manusia, mengirimkan mereka ke dunia, bagaimana mungkin Allah membiarkan dan tidak memberikan bekal rizki kepada manusia?, seorang ayah atau ibu yang baik, saat anaknya akan berangkat melakukan wisata ke luar kota beberapa hari, pastilah orangtua menghitung dan mengukur berapa uang saku yang pas agar sang anak tidak kelaparan selama bebeberapa hari di tempat wisata. Bila mahluk bernama ayah dan ibu saja punya hitungan logis untuk membekali rizki kepada anaknya, apatah lagi Allah Yang Maha Pemurah, Yang Maha Bijaksana, Sang Maha Pemberi Rizki. Mustahil seorang yang Allah rencanakan memberi nyawa selama 75 tahun, lalu jatah rizkinya hanya sebatas untuk hidup selama 50 tahun. Tinggal kita mau meyakini atau tidak. Bagi yang meyakini, selamat menikmati indahnya hidup. Dan bagi yang kurang yakin, selamat menjalani hidup yang sempit, serba risau, dan biasanya gampang tergoda melakukan cara-cara tidak halal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar