Jumat, 25 November 2016

Alhamdulillah Aku Sakit..!!

Dalam lebih banyak keadaan, Alhamdulillah adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba. Ia memuji Allah, karena telah diberikan karunia berupa kenikmatan-kenikmatan. Tapi bagaimana bila keadaan justru sebaliknya?. Sedang ditimpa musibah, atau sedang sakit, apakah masih ada ruang ber-Alhamdulillah?, apa yang hendak disyukuri dari sebuah penyakit? Dimana letak kenikmatannya sehingga perlu disyukuri?

Kita tidak akan memperoleh jawaban atas pertanyaan di atas, bila ukuran nikmat itu adalah kenikmatan fisik atau duniawi. Tentu, orang yang sakit tidak akan menikmati hidup senyaman orang sehat. Sakit adalah kesusahan, penderitaan, dan kesedihan bagi yang mengalami. Sebaliknya sehat adalah kenikmatan dan cerahnya kehidupan. Rasulullah bersabda : “dua nikmat yang banyak manusia tertipu,yaitu  nikmat sehat dan waktu luang” (HR. Bukhori)

Sabda Rasulullah tersebut menyiratkan bahwa sehat dan waktu luang merupakan sebuah kenikmatan. Maka hal-hal yang berkebalikan dengannya, seperti sakit dan kesibukan yang melelahkan, merupakan bagian dari tercabutnya nikmat. Akan tetapi bersamaan dengan itu, Rasulullah juga mengingatkan, bahwa sehat dan lapangnya waktu juga bisa menjadi pintu kelalaian seorang hamba.

Melalui celah fahaman inilah kita akan melihat sakit sebagai sebuat pengingat. Lalu kita akan menarik benang merah bahwa orang yang dibuat ingat, hakikatnya ia diberi nikmat. Sakit akan mengantarkan, kalau tak dibilang memaksa, seorang hamba untuk kembali pada kedudukan aslinya yang ringkih, lemah dan tidak berdaya. Dalam keadaan tak berdaya inilah ada harapan besar ia mengenal kemuliaan dan keagungan Allah ta’ala. Saat fisik dalam keadaan tak berdaya, justru dzikirnya menjadi makin memenuhi rasa. Kepada Allah harapnya bertambah, bergantungnya makin besar. Lantas, bagaimana mungkin Allah tak akan memperhatian hambaNya yang telah menyatakan diri lemah dan bergantung penuh kepadaNya?. Dalam keadaan seperti ini, kesegeraan sembuhnya akan menjadi karunia, panjangnya masa sakitnya juga tak membuatnya sengsara. Inilah Alhamdulillah yang pertama.

Dalam masa-masa perenungan, kesendirian, dan kesabaran saat sakit inilah kemudian Allah menambahkan janji-janji kebaikan. Salah satunya apa yang disabdakan oleh Rasulullah : ”Tidaklah dari seorang Muslim yang tertusuk duri atau yang lebih ringan (sakitnya) darinya, kecuali dicatat baginya derajat dan dihapus darinya dengan hal itu kesalahan (Riwayat Muslim). Inilah alasan ber-Alhamdulillah saat sakit yang kedua.

Alasan Alhamdulillah yang ketiga, adalah karena Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik doa adalah “Alhamdulillah” (HR. Tirmidzi). Bila kita yakin bahwa kesembuhan itu hanya milik Allah, dan doa adalah satu-satunya cara untuk mendapatkannya, maka berdoalah. Dan sebaik baik doa adalah “Alhamdulillah”. Maka ketika kita ditanya, “bagaimana sakitmu?”, kini kita akan menjawab “Alhamdulillah”. Karena dalam “Alhamdulillah” bukan hanya untuk menyibak kesedihan, tapi ia juga merupakan doa. Doa terbaik untuk kesembuhan diri kita. Dalam panjatan doa “Alhamdulillah”, ada khusnduzan, keyakinan, keridhaan. Dimana semua hal tersebut adalah tangga yang mempercepat terkabulnya segala hajat. Wallahu A’lam Bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar