Jumat, 25 November 2016

Dekatkan Jarak dengan Anak Yatim

Kehilangan orang tua, bagi anak-anak yatim, pada hakikatnya bukanlah sebuah kekurangan. Penegasan dari hal ini adalah, Rasulullah sendiri hidup sebagai seorang anak yatim. Ayah beliau meninggal semasa dalam kandungan. Ibundanya turut meninggalkannya di usia 6 tahun. Sungguh keadaan nabi yang yatim tersebut telah meninggalkan sebuah fahaman mendasar bagi kita. Bahwa ia menjadi semacam stempel atau tanda kemuliaan bagi anak-anak yatim, yang tanda itu tidak akan pernah terhapus sampai kapanpun hingga hari kiamat.

Orang tua anak-anak yatim itu meninggal, adalah sebuah takdir hidup yang jalannya kelak seperti apa, hanya Allah yang Mengetahui. Yang pasti, mereka dimuliakan oleh Allah. Dengan segala hikmah yang hanya Allah saja yang tahu, Allah ta’ala sendiri yang mengambil orangtuanya dari kehidupan anak yatim itu. Maka ketentuan Allah selanjutnya adalah, penjagaan dan pembelaanNya kepada anak-anak yatim itu menjadi lebih besar dari anak-anak umumnya. Salah satunya, kita sudah sangat sering dengar peringatan keras di ayat ini, “Tahukah kamu siapa pendusta agama itu? Yaitu mereka yang menghardik yatim” (QS. Al-Maun : 1-2)

Surat Al-Maun tersebut adalah bentuk pembelaan Allah kepada anak-anak Yatim. Sebuah ancaman yang rasanya tidak ada lagi yang lebih mengancam di atas itu. Sebaliknya, kasih sayang Allah kepada anak yatim juga diwujudkan dengan jaminan kemuliaan dan pertolonganNya kepada siapapun yang menolong anak Yatim. Begitulah, kemana-mana anak-anak yatim itu seakan berada dalam “gandengan tangan” Ar-Rahman.

Berikutnya mari kita melihat sisi lain dalam kehidupan hari ini. Sekelompok manusia dewasa sedang menghadapi tuntutan usianya. Mereka bekerja lalu kelelahan, menghadapi masalahnya, memperjuangkan hidup, jatuh sakit, kehilangan pegangan, berada dalam tuntutan status, atau sedang disadarkan dosa lalu takut dengan konsekuensi dunia akhiratnya. Manusia dewasa, seperti kita, menghabiskan banyak tenaga untuk itu semua. Diantaranya menjadi pahala, kadang sia-sia, bahkan seringnya jatuh pada dosa.

Pada amal yang di forsir itulah kadang berpengaruh pada bagian paling berharga dalam diri kita, yaitu hati. Ia mengeras, tak lagi lunak. Kalau masih ada sisa kejernihan, akan terasa tak nyaman dengan kondisi hati yang memar ini.

Saat itulah kita butuh penawar. Banyak cara untuk melembutkannya kembali. Salah satunya nabi mengajarkan untuk menjumpai anak-anak yatim dan mengusap kepalanya sebagai ungkapan kasih sayang. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada  Rasulullah mengeluhkan kekerasan hatinya, lalu Rasulullah saw berkata kepadanya, “jika engkau ingin hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Baihaqi).

Memang anak yatim hadir sebagai pribadi yang kelak sebagaimana kita, akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri. Tapi ia juga telah ditegaskan wahyu bahwa keyatimannya memberikan implikasi kepada orang lain. Bahwa hakikatnya ia telah dipilih oleh Allah sebagai sarana kemuliaan yang sakral bagi orang disekitarnya. Akan dimuliakan orang yang memuliakan anak yatim. Sebaliknya, akan dihinakan mereka yang tak memuliakan anak yatim.


Kali ini kita akan mengingat ulang kedudukan-kedudukan mereka. Belajar lagi tentang sikap-sikap lembut nabi terhadap mereka. Agar makin besar kesadaran bahwa kita butuh kepada anak-anak Yatim itu. Wallahu A’lam Bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar