Rabu, 20 Juli 2016
Ibu, My Real Superhero
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
***
Lirik lagu “Ibu” yang dinyanyikan Iwan Fals sayup-sayur terdengar memenuhi gendang telinga. Salah satu rekan kantor menggunakan tembang “Ibu” untuk ring tone handphone-nya. Lagu yang mengusung “ruh” sedemikian kuat, syair nan menyentuh, hingga sanggup menancapkan rasa bersalah di kalbu setiap anak, lantaran tak akan pernah bisa membalas jasa-jasa ibunda.
Sosok ibunda memang begitu dimuliakan dalam ajaran Islam. Rasulullah menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu...” sebelum kemudian menambahkan “Ayahmu...” tatkala seorang sahabat bertanya siapa yang harus kita hormati dan muliakan. Kendati demikian, entahlah... betapa lisan yang hina dan jiwa yang kering ini, kerap terjerembab dalam perilaku yang justru membuat ibu kita nelangsa.
Tidak jarang, kita amat menyepelekan kehadiran dan peran Ibu. Padahal beliau rela mengorbankan apa saja, demi mendidik dan membahagiakan kita, anak yang hadir melalui rahimnya.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya dengan menyapihnya adalah tiga puluh bulan….” (Al-Ahqaf: 15).
Coba kita telaah diri sendiri. Tahun 2016 sudah memasuki bulan ke-7. Pertanyaan ini saya tujukan kepada para perantau, ataupun Anda yang sudah tidak tinggal serumah dengan ibunda. Pertanyaannya, “Kapan terakhir kali Anda menelepon Ibu?” “Sejak 2016, sudah berapa kali Anda berkunjung menemui Ibu?” “Seberapa sering Anda memikirkan bagaimana keadaan, kabar ibunda kita?”
Bagaimana? Sudah ada jawabannya? Terkadang, kita mengontak beliau hanya bila ada maunya. Ketika minta didoakan supaya lulus promosi jabatan, atau ketika cucu beliau (yang notabene anak kita) sedang menghadapi ujian akhir. Tidak ada yang salah dengan itu. Ibunda di belahan bumi manapun tentu bahagia, manakala anak dan keturunannya juga tengah berjuang meniti tangga sukses dunia. Hanya saja, coba kita cermati sekali lagi, mengapa kita tidak menghubungi beliau untuk menanyakan kabar? Apakah kabar ibu tak lagi penting dalam hidup kita?
Kita tengah tertawa terbahak-bahak, bergelimang uang dan kesuksesan, setelah mengadu nasib di kota impian. Kita bersenda gurau dengan istri yang cantik bin kinclong, berwisata kuliner di restoran mewah bersama anak, lantas... apa yang tengah dilakukan ibunda? Jangan-jangan, sosok di mana surga kita ada di telapak kakinya itu, tengah menangis. Ia menahan sakit, menahan rindu yang teramat sangat pada sang buah hati. Jangan-jangan, sosok yang rela bertaruh antara hidup dan mati kala melahirkan kita itu, tengah merintih, lantaran hina-dina yang bertubi-tubi menyerang dari para tetangga? Jangan-jangan, beliau senantiasa menangis dalam sujud malamnya, mendoakan agar kita bahagia dan sukses di tanah perantauan. Di balik tubuhnya yang kian ringkih, ibunda selalu menyimpan isak tangis, agar kita, anaknya, mengira beliau selalu baik-baik saja.
Begitukah?
Astaghfirullahal ‘adzim... Betapa dzolim diri ini, kita bersenang-senang, selfie sana selfie sini, memuaskan dahaga hedonisme dengan beragam hiburan urban yang memperdaya dan melemahkan iman... Sementara itu, ibu kita... ibu yang melahirkan dengan segenap daya dan cinta... beliau tertunduk dalam doa dan tangis, bermunajat segala kebaikan tentang kita, anak yang nyaris tak pernah berpikir tentang kabar sang ibunda.
Ridho dan doa orang tua adalah “senjata utama” untuk menggapai sukses akherat dan dunia. Ridho Allah bergantung pada ridho orang tua. Murka Allah juga bergantung murka orang tua. Senyampang Ibunda masih ada, tunjukkan bakti terbaik kita! Jangan sampai penyesalan itu hadir, manakala Ibu telah berpulang. Lalu kita sibuk berandai-andai, “Andai Ibu masih hidup, saya akan selalu menyayangi, hormat dan menyediakan semua kebutuhan dan keinginan beliau...” Ahhh....
Apabila orang tua sudah berpulang, masih ada bakti yang bisa kita lakukan. Ketika itu, datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Rasul shallallahu‘alaihi wa salam menjawab, “Ya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud: Ibnu Maja).
Merendahlah. Jangan pernah bangga dengan sesumbar, “Aku itu sudah mandiri, sudah tidak merepotkan ibu lagi! Malah saking mandirinya nih, aku sudah dua tahun nggak ketemu ibu.”
Apa itu sebuah “prestasi”? Apakah Ibu hanya kita temui ketika momen Idul Fitri? Sebegitu dahsyatnya dunia menghempaskan kasih sayang kita, hingga tak mau ambil pusing dengan kabar Ibunda?
Ketika kabar bahwa Ibu tengah sakit hingga diopname, apa yang kita lakukan? Hanya kirim SMS atau Whats App, ”Bu, maaf aku nggak bisa balik. Sedang banyak kerjaan. Aku transfer uang untuk nambah ongkos beli obat.”
Oh, aduhai... Ibunda tak hanya butuh uang transferanmu. Ibunda juga butuh kehadiranmu. Ambillah cuti. Kunjungi beliau. Berdekat-dekatlah. Pekerjaan yang engkau lakukan mati-matian, tak akan sanggup menggantikan penyesalan, manakala Ibumu harus menghadap Illahi.
Kita kerap malu ketika Ibu hadir di wisuda. Kita malu ketika Ibu menemani kita shopping atau jalan-jalan di mall. Coba kita ingat-ingat, pernahkah Ibunda kita merasa malu manakala menggendong kita yang ingusan dan ngompol ketika kecil? Tidak pernah! Malah ia bangga “memamerkan” kita ke semua orang di kampung.
Dalam pepatah jawa,
“Sak gedene kowe mbales jasane simbokmu, kui mung sak pucuk ireng-e kuku”
Sebesar apapun kamu membalas jasa ibumu, itu baru sebesar kotoran di ujung kuku. Mulai detik ini, tak ada lagi alasan untuk tak membahagiakan kedua orang tua. Dedikasikan hidup kita untuk memuliakan beliau. Jangan sampai kita bangga silaturahim ke bioskop, nonton superhero Batman Superman, tapi kita malah lalai dan ogah bersilaturahim dengan “the real superhero” alias “superhero sesungguhnya” dalam hidup kita. (*)
We were Brothers
Kalau kalimat judul di atas diberi penekanan dengan kata “sungguh”, tak lain ada dua alasan. Pertama, kalimat itu merujuk pada bahasa Al-Quran. Kalimat di atas adalah petikan firman Allah ta’ala yang terdapat dalam surat Al-Hujuraat ayat 10 : “Innamal mukminuuna ikhwah..Sungguh, mukmin itu bersaudara!”
Kedua, karena kata “sungguh” memiliki makna tersendiri. Yaitu, bermakna semacam sumpah atau dipakai untuk meyakinkan tentang suatu hal. Contoh : “sungguh, ini rasanya enak” atau “sungguh, aku sudah bilang jangan memilih itu”. Biasanya, pengucapan kata “sungguh” dilakukan karena sang pengucap melihat apa yang ia sampaikan rentan diragukan dan tidak dihiraukan. Sehingga iapun harus mengatakan “sungguh”. Di translate ke bahasa jawa, mungkin kita bisa merasakan muatan emosional dari kata sungguh ini : “tuenan”..”tuemen”. Tampak upaya untuk meyakinkan, bahkan upaya itu mungkin sudah berada di titik puncak dan hampir putus asa.
Andai pembaca tahu apa yang ada di hati penulis, seperti itulah perasaan kami ketika menuliskan catatan ini. Berangkat dari harapan yang besar terhadap ummat Islam hari ini. Agar persaudaraan atas dasar iman itu dijunjung tinggi di atas segala-galanya. Lalu demi persaudaraan, berkenan mengesampingkan perbedaan-perbedaan tak prinsip yang berpotensi memecah belah.
Ketahuilah, bahwa kita telah dipersatukan Allah dalam naungan laa ilaaha ilallah. Ya, pada hakikatnya Allah-lah yang membuat kita terlahir Islam, Allah-lah yang membuat kita bersyahadat. Anda tahu, bahwa Allah tak main-main dan tak sembarangan mentakdirkan anda hidup dalam barisan ummat Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Anda boleh berkhusnudzan, semoga ini adalah rencana baik Allah untuk memberi jalan kemudahan menuju keselamatan akhirat kita. Maka apa yang sudah dipersatukan Allah itu, jangan lagi kita justru cerai beraikan. Hanya karena persoalan perbedaan negara, bangsa, perbedaan mazhab, berbeda pandangan fikih, berbeda kelompok organisasi, lalu kita lupa bahwa laa ilaaha illallah telah meleburkan perbedaan itu semua.
Memang, kita tak bisa keluar dari perbedaan-perbedaan. Jangankan dengan orang lain, dengan istri sendiri saja kita sulit menyamakan semua persepsi. Kalau para sahabat nabi yang terjamin Surga itu sering terjadi perbedaan pendapat dan tak selalu satu suara, justru menjadi pembenaran bahwa Iman tak mensyaratkan keseragaman dalam urusan-urusan cabang (furu’iyah) dan ijtihad fikihnya.
Janganlah kita kehilangan rasa kasih sayang dan cinta kepada saudara seiman. Jangan mudah mencaci, melecehkan, mengkafirkan, menjadikan mereka banyolan, menyebut mereka orang konyol dan sebagainya. Demi Allah bila demikian yang terjadi, yang akan tertawa lebih lebar dan berbangga adalah mereka golongan orang yang membenci Islam. Karena tidaklah mereka menunggu kecuali kehancuran persaudaraan sesama Islam. Allah ta’ala berfirman : “(yaitu) orang-orang (kafir dan munafik) yang menunggu-nunggu (kekalahan) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin).” (QS. An-Nisa : 141)
“Sungguh, mukmin itu bersaudara”, seruan ini kami sampaikan dalam keadaan ingin tumpah air mata. Bagaimana tidak, ketika rasa persaudaraan atas nama Iman itu di uji oleh Allah dengan hadirnya saudara-sudara Rohingya tempo hari, kita hampir-hampir saja gagal melewatinya. Tak terbayang mau diletakkan dimana wajah mukmin kita, bila kaki-kaki kita ikut menendang dan menghalau mereka ke tengah-tengah samudra. Apakah kita sudah kehilangan nurani? Tak takutkah kita andai diantara mereka yang terdzalimi, yang tersakiti hatinya, dan dalam keadaan putus asa lalu Allah menolong mereka. Dan bentuk pertolongan Allah atas sakit hati mereka itu salah satunya adalah membuat perhitungan dengan bangsa Indonesia yang berbangga dengan kebesarannya. Naudzubillah..
Kedua, karena kata “sungguh” memiliki makna tersendiri. Yaitu, bermakna semacam sumpah atau dipakai untuk meyakinkan tentang suatu hal. Contoh : “sungguh, ini rasanya enak” atau “sungguh, aku sudah bilang jangan memilih itu”. Biasanya, pengucapan kata “sungguh” dilakukan karena sang pengucap melihat apa yang ia sampaikan rentan diragukan dan tidak dihiraukan. Sehingga iapun harus mengatakan “sungguh”. Di translate ke bahasa jawa, mungkin kita bisa merasakan muatan emosional dari kata sungguh ini : “tuenan”..”tuemen”. Tampak upaya untuk meyakinkan, bahkan upaya itu mungkin sudah berada di titik puncak dan hampir putus asa.
Andai pembaca tahu apa yang ada di hati penulis, seperti itulah perasaan kami ketika menuliskan catatan ini. Berangkat dari harapan yang besar terhadap ummat Islam hari ini. Agar persaudaraan atas dasar iman itu dijunjung tinggi di atas segala-galanya. Lalu demi persaudaraan, berkenan mengesampingkan perbedaan-perbedaan tak prinsip yang berpotensi memecah belah.
Ketahuilah, bahwa kita telah dipersatukan Allah dalam naungan laa ilaaha ilallah. Ya, pada hakikatnya Allah-lah yang membuat kita terlahir Islam, Allah-lah yang membuat kita bersyahadat. Anda tahu, bahwa Allah tak main-main dan tak sembarangan mentakdirkan anda hidup dalam barisan ummat Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Anda boleh berkhusnudzan, semoga ini adalah rencana baik Allah untuk memberi jalan kemudahan menuju keselamatan akhirat kita. Maka apa yang sudah dipersatukan Allah itu, jangan lagi kita justru cerai beraikan. Hanya karena persoalan perbedaan negara, bangsa, perbedaan mazhab, berbeda pandangan fikih, berbeda kelompok organisasi, lalu kita lupa bahwa laa ilaaha illallah telah meleburkan perbedaan itu semua.
Memang, kita tak bisa keluar dari perbedaan-perbedaan. Jangankan dengan orang lain, dengan istri sendiri saja kita sulit menyamakan semua persepsi. Kalau para sahabat nabi yang terjamin Surga itu sering terjadi perbedaan pendapat dan tak selalu satu suara, justru menjadi pembenaran bahwa Iman tak mensyaratkan keseragaman dalam urusan-urusan cabang (furu’iyah) dan ijtihad fikihnya.
Janganlah kita kehilangan rasa kasih sayang dan cinta kepada saudara seiman. Jangan mudah mencaci, melecehkan, mengkafirkan, menjadikan mereka banyolan, menyebut mereka orang konyol dan sebagainya. Demi Allah bila demikian yang terjadi, yang akan tertawa lebih lebar dan berbangga adalah mereka golongan orang yang membenci Islam. Karena tidaklah mereka menunggu kecuali kehancuran persaudaraan sesama Islam. Allah ta’ala berfirman : “(yaitu) orang-orang (kafir dan munafik) yang menunggu-nunggu (kekalahan) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin).” (QS. An-Nisa : 141)
“Sungguh, mukmin itu bersaudara”, seruan ini kami sampaikan dalam keadaan ingin tumpah air mata. Bagaimana tidak, ketika rasa persaudaraan atas nama Iman itu di uji oleh Allah dengan hadirnya saudara-sudara Rohingya tempo hari, kita hampir-hampir saja gagal melewatinya. Tak terbayang mau diletakkan dimana wajah mukmin kita, bila kaki-kaki kita ikut menendang dan menghalau mereka ke tengah-tengah samudra. Apakah kita sudah kehilangan nurani? Tak takutkah kita andai diantara mereka yang terdzalimi, yang tersakiti hatinya, dan dalam keadaan putus asa lalu Allah menolong mereka. Dan bentuk pertolongan Allah atas sakit hati mereka itu salah satunya adalah membuat perhitungan dengan bangsa Indonesia yang berbangga dengan kebesarannya. Naudzubillah..
Karunia Taman Surga (Raudhoh)
Ternyata, penyebutan nabi mengenai taman Surga tak hanya
disematkan kepada raudhah yang ada di Madinah saja. Ada raudhah lain selain raudhah
karpet hijau yang ada di Masjid Nabawi. Keutamannya tak jauh beda. Bahkan kalau
bukan karena Raudhah “karpet hijau” letaknya
ada di kota suci Madinah dan di Masjid Rosulullah, maka keutamaannya kalah besar
dibanding Raudhah yang satu ini. Sebab
sangat banyak hadits keutamaan yang mengiringinya. Jauh lebih banyak daripada
hadits Raudhah Madinah yang hanya didapati pada satu riwayat hadits saja. Yaitu
hanya hadits riwayat Bukhori yang berbunyi “diantara rumahku dan mimbarku,
terdapat taman diantara taman Surga”.
Penasaran, apakah Raudhah ini?, inilah hadits nabi tentang
taman Surga :
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga,
maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga
itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR.
Tirmidzi)
Di mana majlis dizkir itu?, ya dimana saja. Dimanapun dan
kapanpun ada orang yang berkumpul untuk mengingat Allah, baik dengan cara
membaca Al-Quran, berdzikir, atau mengajarkan ilmu agama, maka tempat tersebut
telah menjadi Raudhah atau taman Surga. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia
menempati majlis-majlis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.”
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Taman Surga yang
tercipta oleh majlis dzikir ini tak kalah mulia dengan taman Surga yang ada di
Madinah sana. Ada banyak hadits dan bahkan ayat Al-Quran yang memperkuat
keutamaan majlis dzikir atau Majlis Ilmu tersebut. Sehingga seorang yang
mengaku beriman, tak mungkin meninggalkan Majlis dzikir dalam kehidupannya. Bahkan
boleh dikata, melihat antusiasme dan berebutannya orang-orang untuk bisa masuk
ke area antara rumah dan mimbar nabi karena ia disebut Raudhah, maka sabda nabi
bahwa majlis dzikir itu juga Raudhah harusnya sudah lebih dari cukup membuat
kita bersemangat memburu majlis dzikir atau majlis ilmu.
Berikut kita akan menengok, dan mencoba merasakan keutamaan
lain yang disuguhkan majlis dzikir. Betapa besarnya limpahan karunia yang Allah
siapkan bagi mereka yang masuk kedalam Majlis dzikir atau Majlis Ilmu ini.
Akan diangkat
derajatnya disisi Allah
Allah subahanahu wa ta’ala berfirman : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan
kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah : 11).
Ayat Peruntuh "Galau" Rezeki
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezkinya,” (QS. Hud : 6).
Sebuah ilustrasi yang menyentak, ditulis oleh Imam hakim At’Tirmidzi dalam kitabnya “Adab Al-Nafs”. Beliau berkata : “Seandainya engkau memiliki buku catatan piutang teman-temanmu, si fulan punya hutang sekian puluh ribu dirham, si fulan ini sekian puluh ribu dirham, si fulan yang ini sekian puluh ribu dirham. Dan engkau kenal bahwa teman-temanmu ini adalah orang-orang sholeh yang amanah lagi kaya yang pasti mereka sanggup mengembalikan hutangnya Apa yang engkau rasakan?, pasti engkau akan tenang karena engkau merasa aman dengan harta yang tersimpan oleh teman-temanmu yang terpercaya. Harta itu terjamin pasti kembali ketika waktunya tiba. Engkau tutup buku catatanmu dalam keadaan tenang dan sumringah.
Lalu bukalah buku yang lain. Bukalah buku bernama mushaf Al-Quran. Bukalah lembaran-lembarannya. Lalu berhentilah sejenak di sebuah catatan yang berbunyi “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezkinya,” (QS. Hud : 6).
Apakah yang engkau rasakan membaca jaminan itu? Apakah kedudukannya dihatimu sama dengan catatan jaminan hutang teman-temanmu yang engkau yakini pasti terealisasi, apakah rasa tenang juga menyelimuti hatimu seperti tenangmu saat melihat catatan piutang, apakah engkau meyakininya sebagaimana meyakini catatan pitung? Atau justru sebaliknya, engkau tak merasakan apa-apa, ayat itu tak membekas dihatimu, tak menjadikan penenang gelisahmu akan rizki, engkau menutup mushaf al-Quran tanpa ada ketenangan dan kebahagiaan kecuali sedikit saja”
Kalau begitu, tutup Imam At-Tirmidzi, “tidakkah kamu malu kepada Allah dengan sikapmu itu!!”
Kalau mau mempraktekkan ilustrasi imam Al Hakim Tirmidzi, silahkan bandingkan perasaan kita antara ketika melihat buku rekening tabungan bank yang angkanya puluhan juta dengan saat membaca ayat-ayat janji jaminan rizki di dalam Al-Quran. Lebih menenangkan yang mana? Jaminan bank atau jaminan Allah?!
“kalau mahluk boleh protes, maka cicak paling merasa layak protes kepada Allah”, kata da’i kondang KH. Abdullah Gymnastiar. “bagaimana tidak, cicak makanannya nyamuk, nyamuk punya sayap sedang cicak tidak punya sayap, logikanya bagaimana mungkin cicak bisa dapat rizki makanan sedangkan makanannya bisa terbang kesana kemari, tapi buktinya cicak tidak mati kelaparan, cicak tetap bisa makan nyamuk!”.
Jujur saja, banyak manusia gagal meraih ketenangan hidup lantaran mengkhawatiri urusan rizki. Mereka mengurusi sesuatu yang hakikatnya bukan urusannya. Mereka tidak yakin dengan kepengurusan Allah dalam menjatah rizki untuk mereka.
Tak sepatutnya kita meragukan kekuasaan dan keadilan Allah dalam menebarkan rizki kepada hamba-hambaNya. Allah menciptakan manusia, mengirimkan mereka ke dunia, bagaimana mungkin Allah membiarkan dan tidak memberikan bekal rizki kepada manusia?, seorang ayah atau ibu yang baik, saat anaknya akan berangkat melakukan wisata ke luar kota beberapa hari, pastilah orangtua menghitung dan mengukur berapa uang saku yang pas agar sang anak tidak kelaparan selama bebeberapa hari di tempat wisata. Bila mahluk bernama ayah dan ibu saja punya hitungan logis untuk membekali rizki kepada anaknya, apatah lagi Allah Yang Maha Pemurah, Yang Maha Bijaksana, Sang Maha Pemberi Rizki. Mustahil seorang yang Allah rencanakan memberi nyawa selama 75 tahun, lalu jatah rizkinya hanya sebatas untuk hidup selama 50 tahun. Tinggal kita mau meyakini atau tidak. Bagi yang meyakini, selamat menikmati indahnya hidup. Dan bagi yang kurang yakin, selamat menjalani hidup yang sempit, serba risau, dan biasanya gampang tergoda melakukan cara-cara tidak halal.
Bahagianya Menebar Kebahagiaan
Kita semua akan selalu mencari kebahagiaan. Lalu apabila ada yang bersedia memberikannya, maka ia akan menjadi orang yang kita sukai bahkan dicintai. Kita akan berterimakasih, memujinya, berusaha membalas kebaikannya, dan mendoakan dengan tulus agar Allah membalas kebaikannya. Bila satu orang saja yang dibahagiakan akan membalas dengan senyum dan doa tulus yang membuat kebahagiaan itu kembali pada kita, lantas bagaimana bila ada lebih banyak lagi orang-orang yang kita bahagiakan? Bagaimana bila kebahagiaan itu kita sebarkan kepada siapapun? Lalu bagaiaman bila menebar kebahagiaan itu menjadi sebuah komitmen hidup bagi kita. Dimana tidak ada satu tempat atau waktu pun melainkan kita ingin menebar kebahagiaan untuk orang-orang sekitar kita. Ya hasilnya, kita akan menjadi orang yang paling bahagia. Bahkan melebihi kebahagiaan orang yang kita bahagiakan.
Sudah jamak kita dapati hasil-hasil penelitian ilmiah tentang hubungan antara tingkat kebahagiaan terhadap perilaku memberi atau menolong orang lain. Salah satu hasilnya seperti yang dijelaskan oleh Harvard University dalam salah satu jurnalnya : Bahwa menghabiskan uang untuk membantu orang lain (juga disebut “belanja prososial”) meningkatkan kebahagiaan lebih dibanding membeli sesuatu untuk diri kita sendiri.
Terkadang kebahagiaan yang diberikan menyangkut persoalan yang sangat besar dan krusial. Seperti membantu menyelesaikan masalah yang dialami seseorang sampai mengorbankan tenaga dan harta. Tapi kebahagiaan juga bisa diterbarkan melalui ucapan dan perbuatan-perbuatan yang kecil dan ringan. Apapun bentuk kebahagiaan yang ingin kita tebarkan, ketahuilah menebar kebahagiaan adalah akhlak seorang muslim yang sangat mulia. Adalah Rosulullah, orang yang paling gemar menebarkan kebahagiaan. Diriwayatakan oleh Ibnu Abbas bahwa Rosulullah bersabda : “diantara sebaik-baik amal, adalah menebar kebahagian kepada orang-orang mukmin, membayarkan hutangnya, atau memenuhi hajatnya, atau meringankan kesulitannya”
Dalam riwayat lain suatu ketika Rosulullah ditanya, “apakah amal yang paling baik?”. Beliau menjawab, “Amal yang paling baik yaitu engkau bahagiakan saudaramu yang muslim, atau engkau cukupi hutangnya, atau engkau berikan roti untuk dimakan olehnya”.
Kedua hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman. Yaitu kitab yang beliau susun untuk memperinci hadits nabi tentang cabang-cabang Iman :
IMAN itu ada lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, tingkatan cabang terafdhol -tertinggi- adalah ucapan LA ILAHA ILLALLOH, tingkatan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan, dan MALU merupakan salah satu cabang dari IMAN [Muttafaqun 'alaih]
Sudah jamak kita dapati hasil-hasil penelitian ilmiah tentang hubungan antara tingkat kebahagiaan terhadap perilaku memberi atau menolong orang lain. Salah satu hasilnya seperti yang dijelaskan oleh Harvard University dalam salah satu jurnalnya : Bahwa menghabiskan uang untuk membantu orang lain (juga disebut “belanja prososial”) meningkatkan kebahagiaan lebih dibanding membeli sesuatu untuk diri kita sendiri.
Terkadang kebahagiaan yang diberikan menyangkut persoalan yang sangat besar dan krusial. Seperti membantu menyelesaikan masalah yang dialami seseorang sampai mengorbankan tenaga dan harta. Tapi kebahagiaan juga bisa diterbarkan melalui ucapan dan perbuatan-perbuatan yang kecil dan ringan. Apapun bentuk kebahagiaan yang ingin kita tebarkan, ketahuilah menebar kebahagiaan adalah akhlak seorang muslim yang sangat mulia. Adalah Rosulullah, orang yang paling gemar menebarkan kebahagiaan. Diriwayatakan oleh Ibnu Abbas bahwa Rosulullah bersabda : “diantara sebaik-baik amal, adalah menebar kebahagian kepada orang-orang mukmin, membayarkan hutangnya, atau memenuhi hajatnya, atau meringankan kesulitannya”
Dalam riwayat lain suatu ketika Rosulullah ditanya, “apakah amal yang paling baik?”. Beliau menjawab, “Amal yang paling baik yaitu engkau bahagiakan saudaramu yang muslim, atau engkau cukupi hutangnya, atau engkau berikan roti untuk dimakan olehnya”.
Kedua hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman. Yaitu kitab yang beliau susun untuk memperinci hadits nabi tentang cabang-cabang Iman :
IMAN itu ada lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, tingkatan cabang terafdhol -tertinggi- adalah ucapan LA ILAHA ILLALLOH, tingkatan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan, dan MALU merupakan salah satu cabang dari IMAN [Muttafaqun 'alaih]
"PD" Bangun Mimpi
Kita percaya impianlah yang membuat kita bergerak dan semangat menjalani hidup. Kita menjadi bersedia menata kehidupan hari ini karena adanya sesuatu yang ingin diraih di masa depan. Sebaliknya, impian yang tak tergambar jelas, membuat hidup tidak bergairah. Kehilangan fokus sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Orang-orang yang impiannya tak tergambar jelas bukanlah yang tak menuliskan impiannya di kertas. Mereka mungkin tidak termasuk kelompok yang rajin menuliskan mimpi atau resolusinya lalu ditempel di cermin atau pintu kamar. Meski demikian mereka sudah menuliskan, menginginkan dan mengkomitmenkan impiannya di dalam kepala mereka. Kita bisa melihat dari antusiasme sikap, perilaku dan perkataannnya yang menunjukkan betapa ia merencanakan sesuatu di masa depan.
Tak tergambarnya impian masa depan lebih soal ketidakpercayaan diri. Ada sebagian orang yang sekedar membayangkan masa depan saja tidak berani. Mereka ragu dengan dirinya sendiri. Mereka tak pernah berfikir ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk dirinya sendiri dan orang lain di masa depan.
Lalu ada dua kelompok lain. Kelompok pertama, mencari pembenaran dengan beralasan terserah takdir. Abai dengan sunnatullah perencanaan sehingga kualitas hidupnyapun stagnan. Lalu kelompok kedua, mereka semangat bermimpi namun berpijak dipondasi yang salah. Entah belajar dari mana, tiba-tiba mereka menjadi seakan apriori terhadap konsep takdir, berlebihan menakjubi kekuatan pikiran, memformulasi rahasia alam sesuai nalar dan ilmu filsafat. Prinsip Tauhid bahwa Allah sebagai pemilik kuasa kehendak, pengatur mutlak (Al-Qayyum), dan fahaman mengenai tak dapat ditembusnya dinding takdir menjadi dipertentangkan. Mereka mengasumsi kekuatan diri melebihi batas kewajaran. Lalu akan ada yang lebih antusias melakukan meditasi, afirmasi, relaksasi, visualisasi. Sedangkan ibadah, sholat dan doa tak terlalu dikhusyuki. Kalau sudah begini,sejelek-jeleknya bersembunyi dibalik takdir, menjadi masih jauh lebih baik.
Percaya diri bermimpi tak harus memaksakan diri seperti itu. Bahkan sebenarnya, keimanan yang kita miliki sudah cukup menjadi alasan mengapa harus percaya diri. Dengan alasan yang kalau boleh dibilang sederhana, bahwa hidup ini ada Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengatur, seorang mukmin akan merasa mantap untuk menata rencana-rencana masa depan. Lihatlah betapa sederhana dan mudahnya Allah memantapkan hati orang-orang yang jiwanya sudah dinaungi keimanan. Ketika Musa dan Harun ditimpa ketakutan saat mau mendatangi Firaun dan tentaranya, Allah hanya berfirman : "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (QS. Thahaa : 46)
Setelahnya Musa dan Harun menjadi tenang. Mereka memang tetap tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Allah tidak kabarkan kepada mereka tentang nasibnya dihadapan firaun. Apakah ia akan menang atau kalah? Atau Allah berkehendak Musa terbunuh, Musa tidak tahu. Yang ia tahu pokoknya Allah melihat dan Allah mendengar. Itu saja, cukup. Maka mereka berdua melangkah mantap menuju takdir apapun yang akan terjadi di hadapan dengan keyakinan Allah bersama mereka.
Bayangkanlah, betapa senangnya memiliki hati seyakin nabi Musa dan sepupunya. Orang-orang yang kokoh tauhidnya, hanya diingatkan bahwa “Allah melihat dan Allah mendengar”, keberaniannya tumbuh memenuhi dadanya. Lalu lihatlah betapa iman bekerja luar biasa menjadikan hidup bersemangat, menyibak awan ragu dan putus asa, membuat optimis, tangguh, dan percaya diri menatap masa depan. Maka semoga Allah memberi kefahaman hikmah sebagaimana para nabi.
Orang-orang yang impiannya tak tergambar jelas bukanlah yang tak menuliskan impiannya di kertas. Mereka mungkin tidak termasuk kelompok yang rajin menuliskan mimpi atau resolusinya lalu ditempel di cermin atau pintu kamar. Meski demikian mereka sudah menuliskan, menginginkan dan mengkomitmenkan impiannya di dalam kepala mereka. Kita bisa melihat dari antusiasme sikap, perilaku dan perkataannnya yang menunjukkan betapa ia merencanakan sesuatu di masa depan.
Tak tergambarnya impian masa depan lebih soal ketidakpercayaan diri. Ada sebagian orang yang sekedar membayangkan masa depan saja tidak berani. Mereka ragu dengan dirinya sendiri. Mereka tak pernah berfikir ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk dirinya sendiri dan orang lain di masa depan.
Lalu ada dua kelompok lain. Kelompok pertama, mencari pembenaran dengan beralasan terserah takdir. Abai dengan sunnatullah perencanaan sehingga kualitas hidupnyapun stagnan. Lalu kelompok kedua, mereka semangat bermimpi namun berpijak dipondasi yang salah. Entah belajar dari mana, tiba-tiba mereka menjadi seakan apriori terhadap konsep takdir, berlebihan menakjubi kekuatan pikiran, memformulasi rahasia alam sesuai nalar dan ilmu filsafat. Prinsip Tauhid bahwa Allah sebagai pemilik kuasa kehendak, pengatur mutlak (Al-Qayyum), dan fahaman mengenai tak dapat ditembusnya dinding takdir menjadi dipertentangkan. Mereka mengasumsi kekuatan diri melebihi batas kewajaran. Lalu akan ada yang lebih antusias melakukan meditasi, afirmasi, relaksasi, visualisasi. Sedangkan ibadah, sholat dan doa tak terlalu dikhusyuki. Kalau sudah begini,sejelek-jeleknya bersembunyi dibalik takdir, menjadi masih jauh lebih baik.
Percaya diri bermimpi tak harus memaksakan diri seperti itu. Bahkan sebenarnya, keimanan yang kita miliki sudah cukup menjadi alasan mengapa harus percaya diri. Dengan alasan yang kalau boleh dibilang sederhana, bahwa hidup ini ada Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengatur, seorang mukmin akan merasa mantap untuk menata rencana-rencana masa depan. Lihatlah betapa sederhana dan mudahnya Allah memantapkan hati orang-orang yang jiwanya sudah dinaungi keimanan. Ketika Musa dan Harun ditimpa ketakutan saat mau mendatangi Firaun dan tentaranya, Allah hanya berfirman : "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (QS. Thahaa : 46)
Setelahnya Musa dan Harun menjadi tenang. Mereka memang tetap tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Allah tidak kabarkan kepada mereka tentang nasibnya dihadapan firaun. Apakah ia akan menang atau kalah? Atau Allah berkehendak Musa terbunuh, Musa tidak tahu. Yang ia tahu pokoknya Allah melihat dan Allah mendengar. Itu saja, cukup. Maka mereka berdua melangkah mantap menuju takdir apapun yang akan terjadi di hadapan dengan keyakinan Allah bersama mereka.
Bayangkanlah, betapa senangnya memiliki hati seyakin nabi Musa dan sepupunya. Orang-orang yang kokoh tauhidnya, hanya diingatkan bahwa “Allah melihat dan Allah mendengar”, keberaniannya tumbuh memenuhi dadanya. Lalu lihatlah betapa iman bekerja luar biasa menjadikan hidup bersemangat, menyibak awan ragu dan putus asa, membuat optimis, tangguh, dan percaya diri menatap masa depan. Maka semoga Allah memberi kefahaman hikmah sebagaimana para nabi.
Kapan "Gue" Hijrah!
Sebuah stasiun televisi sedang menyiarkan acara talkshow. Bintang tamunya adalah seorang artis yang “berubah”. Sang artis yang sebelumnya hidup dalam gemerlapnya dunia entertaint rela meninggalkannya menuju kehidupan yang lebih Islami. Dalam kisahnya, seringkali sang artis mengucapkan kata“hijrah”. Untuk mewakili perubahan hidup yang ia lakukan.
Segala puji bagi Allah, betapa Allah memberi petunjuk kepada para pemakmur tabung ajaib televisi ini dalam jumlah tak sedikit. Sepertinya sepuluh jari kita tak cukup merinci siapa-siapa saja mereka. Meskipun artis perusak moral masih jauh lebih banyak, tapi banyaknya para kaum idola yang mengambil pilihan berhijrah tetap sesuatu yang amat kita kagumi dan syukuri.
Sejatinya siapapun yang berani melakukan perubahan hidup menuju ketaatan pada Allah akan selalu mengundang kekaguman. Karena tak semua orang siap dengan konsekuensi dari hijrah yang ia pilih. Bila ada orang yang kita lihat dia ada tanda-tanda berhijrah, misal dari non-muslim menjadi muallaf, dari Islam abal-abal menjadi Islam yang taat, dari tidak biasa sholat jadi rajin ke Masjid, dari membuka aurat menjadi berhijab, dari buruk perangai menjadi baik akhlak, meninggalkan pergaulan teman-teman semaksiatnya, pastilah membuat kita bahagia. Melihat mereka, hati rasanya tenteram. Seakan-akan kita melihat betapa bangganya Allah kepada hamba sang Muhajir ini (orang yang berhijrah).
Meskipun demikian, tidak sedikit golongan yang mencibir dan membenci. Karena memang, ada tiga kelompok penilai dalam melihat orang berhijrah ini.
Pertama, orang jahat dan buruk imannya. Mereka adalah pelaku yang senang dengan kemaksiatan. Kelompok ini tidak suka apabila ada orang lain berubah menjadi lebih baik. Mereka ingin agar kemaksiatan dan keburukan yang ia lakukan juga dilakukan oleh orang lain. Gayanya sudah gaya setan, mencari teman untuk melakukan kemaksiatan. Sehingga mereka akan berkata, “Apa gunanya dia berhijrah”?
Kedua, orang baik dan kuat imannya. Mereka adalah orang-orang yang mendukung orang lain untuk berhijrah. Bahkan mereka adalah para pelaku amar makruf yang berjuang keras mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk hijrah kepada Allah. Mereka ingin agar kebaikan dan ketaatan yang ia lakukan juga dilakukan oleh orang lain. Sehingga mereka akan berkata, “Selamat datang orang-orang yang mendapat petunjuk”
Ketiga, orang baik tapi masih lemah imannya. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya hatinya masih hidup namun sakit. Dia memiliki iman, namun sayangnya masih lemah. Sehingga ia selalu terbawa dalam kelalaian dan sering jatuh pada kemaksiatan. Ia tahu yang dia lakukan salah, tapi lemahnya iman membuat ia belum ada kemantapan untuk bangkit dan berubah. Orang seperti ini kadang masih ada kejujuran dalam hatinya dengan berkata, “banyak yang sudah hijrah, kapan giliranku Hijrah?”.
Mungkin sebagian kita berada dalam kelompok ketiga ini. Dan juga pernah bertanya pada diri sendiri, “kapan giliranku Hijrah?”. Bila pertanyaan itu kembali muncul, semoga kali ini kita bisa menjawabnya dengan jawaban yang disukai Allah. Bukan disukai setan.
Segala puji bagi Allah, betapa Allah memberi petunjuk kepada para pemakmur tabung ajaib televisi ini dalam jumlah tak sedikit. Sepertinya sepuluh jari kita tak cukup merinci siapa-siapa saja mereka. Meskipun artis perusak moral masih jauh lebih banyak, tapi banyaknya para kaum idola yang mengambil pilihan berhijrah tetap sesuatu yang amat kita kagumi dan syukuri.
Sejatinya siapapun yang berani melakukan perubahan hidup menuju ketaatan pada Allah akan selalu mengundang kekaguman. Karena tak semua orang siap dengan konsekuensi dari hijrah yang ia pilih. Bila ada orang yang kita lihat dia ada tanda-tanda berhijrah, misal dari non-muslim menjadi muallaf, dari Islam abal-abal menjadi Islam yang taat, dari tidak biasa sholat jadi rajin ke Masjid, dari membuka aurat menjadi berhijab, dari buruk perangai menjadi baik akhlak, meninggalkan pergaulan teman-teman semaksiatnya, pastilah membuat kita bahagia. Melihat mereka, hati rasanya tenteram. Seakan-akan kita melihat betapa bangganya Allah kepada hamba sang Muhajir ini (orang yang berhijrah).
Meskipun demikian, tidak sedikit golongan yang mencibir dan membenci. Karena memang, ada tiga kelompok penilai dalam melihat orang berhijrah ini.
Pertama, orang jahat dan buruk imannya. Mereka adalah pelaku yang senang dengan kemaksiatan. Kelompok ini tidak suka apabila ada orang lain berubah menjadi lebih baik. Mereka ingin agar kemaksiatan dan keburukan yang ia lakukan juga dilakukan oleh orang lain. Gayanya sudah gaya setan, mencari teman untuk melakukan kemaksiatan. Sehingga mereka akan berkata, “Apa gunanya dia berhijrah”?
Kedua, orang baik dan kuat imannya. Mereka adalah orang-orang yang mendukung orang lain untuk berhijrah. Bahkan mereka adalah para pelaku amar makruf yang berjuang keras mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk hijrah kepada Allah. Mereka ingin agar kebaikan dan ketaatan yang ia lakukan juga dilakukan oleh orang lain. Sehingga mereka akan berkata, “Selamat datang orang-orang yang mendapat petunjuk”
Ketiga, orang baik tapi masih lemah imannya. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya hatinya masih hidup namun sakit. Dia memiliki iman, namun sayangnya masih lemah. Sehingga ia selalu terbawa dalam kelalaian dan sering jatuh pada kemaksiatan. Ia tahu yang dia lakukan salah, tapi lemahnya iman membuat ia belum ada kemantapan untuk bangkit dan berubah. Orang seperti ini kadang masih ada kejujuran dalam hatinya dengan berkata, “banyak yang sudah hijrah, kapan giliranku Hijrah?”.
Mungkin sebagian kita berada dalam kelompok ketiga ini. Dan juga pernah bertanya pada diri sendiri, “kapan giliranku Hijrah?”. Bila pertanyaan itu kembali muncul, semoga kali ini kita bisa menjawabnya dengan jawaban yang disukai Allah. Bukan disukai setan.
Berlimpah dan Barokah
Siapa yang tak suka keberlimpahan?, semua pasti menginginkan. Karena bongkahan kebahagian memang ada dalam keberlimpahan. Manusia mengumpulkan kekayaan, selalu dimaksudkan untuk : ketika mengumpulkannya, saat melihat angka-angkanya, saat menggunakannya, membagikannya, atau memamerkannya akan membuat hati bahagia. Hidup serba ada, segala sesuatu serba dipunya, bisa belanja apa saja, alasan apatah lagi yang membuat hidup ini tak tenteram, aman sentausa.
Namun bayangan kebahagiaan bisa buyar bila melihat sebagian kenyataan dilapangan. Cerita-cerita berlatar kemewahan dan gaya hidup, baik yang kita dapati dari sejarah macam kisah Qarun atau memirsa kasus-kasus orang terkenal di media, membuat kita meralat keyakinan kita. Bahwa semua belum tentu menjadi mudah meski harta berlimpah. Justru seperti menjadi sebuah alur yang sebagian mudah ditebak. Puncak keberhasilan dan kelapangan menjadi semacam klimaks, yang siklusnya kemudian ber-antiklimaks pada jeratan kasus, suami serong, cekcok rumah tangga, anak berebut warisan, tersangkut hutang-piutang, bisnis terpuruk, sakit-sakitan, yang semuanya itu seperti tak punya cara lain kecuali dihadapi dengan putus asa.
Bila dikembalikan kepada logika asalnya, keberlimpahan mestinya lebih dekat pada kebahagiaan dan hidup yang lebih tertata. Ya, faktanya yang menikmati dan tenang dalam keberlimpahan juga banyak. Maka sebagaimana tak semua yang sedikit selalu baik, juga tak semua yang mewah adalah buruk. Kuncinya adalah pada barokah. Mau apapun keadaannya yang penting barokah. Sesuatu yang barokah, meski ia sedikit dalam pandangan mata orang-orang, maka yang sedikitnya itu jauh lebih baik dari banyaknya. Sebaliknya, sesuatu yang dalam kasat mata banyak dan menarik hati bagi orang-orang, tapi tidak barakah, maka yang ada hanyalah keburukan. Allah ta’ala berfirman : “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu” (QS. Al-Maidah : 100).
Ayat ini demikian terang menjelaskan. Bahwa, tak ada manfaatnya keberlimpahan, bila ia tidak mendekatkan pada kebaikan berupa ilmu, kuatnya keyakinan, kemanfaatan, dan kebenaran. Karenanya, janganlah mengejar hidup berlimpah sampai membuat kita meninggalkan barakah. Lihatlah semua peluang-peluang duniawi dengan pandangan hati. Lalu timang-timang, bila ia tak berpeluang mendatangkan barakah, tinggalkan saja. Tak usah peduli orang lain katakan “eman..sayang..peluang tidak diambil”. Karena ia cuma fatamorgana yang tak menjanjikan apa-apa kecuali keputus-asaan.
Namun bayangan kebahagiaan bisa buyar bila melihat sebagian kenyataan dilapangan. Cerita-cerita berlatar kemewahan dan gaya hidup, baik yang kita dapati dari sejarah macam kisah Qarun atau memirsa kasus-kasus orang terkenal di media, membuat kita meralat keyakinan kita. Bahwa semua belum tentu menjadi mudah meski harta berlimpah. Justru seperti menjadi sebuah alur yang sebagian mudah ditebak. Puncak keberhasilan dan kelapangan menjadi semacam klimaks, yang siklusnya kemudian ber-antiklimaks pada jeratan kasus, suami serong, cekcok rumah tangga, anak berebut warisan, tersangkut hutang-piutang, bisnis terpuruk, sakit-sakitan, yang semuanya itu seperti tak punya cara lain kecuali dihadapi dengan putus asa.
Bila dikembalikan kepada logika asalnya, keberlimpahan mestinya lebih dekat pada kebahagiaan dan hidup yang lebih tertata. Ya, faktanya yang menikmati dan tenang dalam keberlimpahan juga banyak. Maka sebagaimana tak semua yang sedikit selalu baik, juga tak semua yang mewah adalah buruk. Kuncinya adalah pada barokah. Mau apapun keadaannya yang penting barokah. Sesuatu yang barokah, meski ia sedikit dalam pandangan mata orang-orang, maka yang sedikitnya itu jauh lebih baik dari banyaknya. Sebaliknya, sesuatu yang dalam kasat mata banyak dan menarik hati bagi orang-orang, tapi tidak barakah, maka yang ada hanyalah keburukan. Allah ta’ala berfirman : “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu” (QS. Al-Maidah : 100).
Ayat ini demikian terang menjelaskan. Bahwa, tak ada manfaatnya keberlimpahan, bila ia tidak mendekatkan pada kebaikan berupa ilmu, kuatnya keyakinan, kemanfaatan, dan kebenaran. Karenanya, janganlah mengejar hidup berlimpah sampai membuat kita meninggalkan barakah. Lihatlah semua peluang-peluang duniawi dengan pandangan hati. Lalu timang-timang, bila ia tak berpeluang mendatangkan barakah, tinggalkan saja. Tak usah peduli orang lain katakan “eman..sayang..peluang tidak diambil”. Karena ia cuma fatamorgana yang tak menjanjikan apa-apa kecuali keputus-asaan.
Do Wrong "Enemy"
Ini hanya sebuah dialog imajiner, bukan sebuah riwayat hadits. Bahkan riwayat dhaifpun bukan. Ini hanya andai-andai.
Kelak di Surga, di sebuah gang, berpapasan dua orang yang dulunya di dunia sama-sama kenal. Si orang pertama menyapa. Ekspresinya kaget.
Si A : “luh, cak, sampeyan ternyata masuk Surga juga”
Si B : “lha, sampeyan juga ada disini”, sahutnya tak kalah kaget.
Si A : “sampeyan kan dulu yang tak bid’ah-bid’ahkan itu, tak anggap dangkal ilmu, tak remehkan sebagai orang taklid buta, hehe..sungguh aku ngira sampeyan ndak bakalan tinggal di Surga”
Si B : “wak, sampeyan sembarangan mas, aku ya minta maaf, dulu sampeyan kadung tak jelek-jelekkan juga, ingat statusku di FB pas debat sama sampeyan. Saking mangkelnya sampeyan saya bilangi aliran Islam garis keras, ekstremis, khawarij, tidak punya akhlakul karimah, tidak lembut seperti kanjeng nabi”
Si A : “hehehe..rupanya kita berdua sama-sama masuk Surga”
Si B : “Alhamdulillah, untungnya Allah menerima taubat dan mengampuni kesalahan kita. Untungnya niat kita berdebat didasari pengetahuan kita masing-masing dan kesombongan tak sampai menguasai hatiku. Maaf, rupanya aku keliru memilih musuh”
Si A: “Meskipun omonganku ndak enak, tapi aku diam-diam sebenarnya mendoakan kebaikan buat sampeyan dan keluarga sampeyan lho. Alhamdulillah, meski sempat hatiku melecehkan sampeyan dan sombong, aku cepat-cepat sadar dan menata hati”
Si B : “coba sampeyan lihat kesana”, sambil menunjuk ke sekumpulan orang.
Si A : Lho, itu kan ustadz A dan Ustadz B dari ormas Islam A dan ormas Islam B, mereka ada di Surga juga ternyata”.
Si B : “lha itu dia juga, sayyidina Ali dengan sayyidina Thalhah bin Ubaidillah, yang sempat berseberangan dan berselisih paham, juga sama-sama di Surga”
Silahkan ditanggapi ringan. Yang tak setuju dengan metafora ini, tidak apa-apa. Yang penting fahami niat baiknya. Pesan moralnya adalah : sesama mukmin yang berbeda pendapat bukan berarti dia musuh bagi kita. Berbeda ormas, berbeda mazhab, bukan kepastian bahwa salah satunya harus benar dan yang lainnya harus salah. Dua-duanya bisa benar. InsyaAllah, dua-duanya bisa sama-sama ahli Surga.
Maka jangan salah memilih musuh. Pahami baik-baik, musuh kita hanyalah kemaksiatan dan kekufuran. Jangan sampai kemaksiatan dan kekufuran lolos dan kita biarkan melenggang, sementara kita lebih sibuk saling menjatuhkan kelompok Islam lain yang sejatinya masih dalam satu bingkai dakwah Ahlu Sunnah.
Kelak di Surga, di sebuah gang, berpapasan dua orang yang dulunya di dunia sama-sama kenal. Si orang pertama menyapa. Ekspresinya kaget.
Si A : “luh, cak, sampeyan ternyata masuk Surga juga”
Si B : “lha, sampeyan juga ada disini”, sahutnya tak kalah kaget.
Si A : “sampeyan kan dulu yang tak bid’ah-bid’ahkan itu, tak anggap dangkal ilmu, tak remehkan sebagai orang taklid buta, hehe..sungguh aku ngira sampeyan ndak bakalan tinggal di Surga”
Si B : “wak, sampeyan sembarangan mas, aku ya minta maaf, dulu sampeyan kadung tak jelek-jelekkan juga, ingat statusku di FB pas debat sama sampeyan. Saking mangkelnya sampeyan saya bilangi aliran Islam garis keras, ekstremis, khawarij, tidak punya akhlakul karimah, tidak lembut seperti kanjeng nabi”
Si A : “hehehe..rupanya kita berdua sama-sama masuk Surga”
Si B : “Alhamdulillah, untungnya Allah menerima taubat dan mengampuni kesalahan kita. Untungnya niat kita berdebat didasari pengetahuan kita masing-masing dan kesombongan tak sampai menguasai hatiku. Maaf, rupanya aku keliru memilih musuh”
Si A: “Meskipun omonganku ndak enak, tapi aku diam-diam sebenarnya mendoakan kebaikan buat sampeyan dan keluarga sampeyan lho. Alhamdulillah, meski sempat hatiku melecehkan sampeyan dan sombong, aku cepat-cepat sadar dan menata hati”
Si B : “coba sampeyan lihat kesana”, sambil menunjuk ke sekumpulan orang.
Si A : Lho, itu kan ustadz A dan Ustadz B dari ormas Islam A dan ormas Islam B, mereka ada di Surga juga ternyata”.
Si B : “lha itu dia juga, sayyidina Ali dengan sayyidina Thalhah bin Ubaidillah, yang sempat berseberangan dan berselisih paham, juga sama-sama di Surga”
Silahkan ditanggapi ringan. Yang tak setuju dengan metafora ini, tidak apa-apa. Yang penting fahami niat baiknya. Pesan moralnya adalah : sesama mukmin yang berbeda pendapat bukan berarti dia musuh bagi kita. Berbeda ormas, berbeda mazhab, bukan kepastian bahwa salah satunya harus benar dan yang lainnya harus salah. Dua-duanya bisa benar. InsyaAllah, dua-duanya bisa sama-sama ahli Surga.
Maka jangan salah memilih musuh. Pahami baik-baik, musuh kita hanyalah kemaksiatan dan kekufuran. Jangan sampai kemaksiatan dan kekufuran lolos dan kita biarkan melenggang, sementara kita lebih sibuk saling menjatuhkan kelompok Islam lain yang sejatinya masih dalam satu bingkai dakwah Ahlu Sunnah.
Jangan Manjakan Perut
Allahu Akbar..Allahu
Akbar..Allahu Akbar wa Lillahilhamdu. Pengagungan dan pujian setinggi-tingginya
kita panjatkan kepada Allah. Atas karunia disempurnakannya usia kita hingga
sanggup melintasi keberkahan bulan Ramadhan tahun ini. Bolehlah kita
mengingat-ingat kembali keutamaan-keutamaan yang Allah janjikan di bulan
Ramadhan : yaitu terhapusnya dosa, terangkatnya derajat takwa, dan pembebasan
api neraka.
Selanjutnya, andai kita terpilih sebagai
penerima anugerah itu (amiin), maka sepantasnya ada komitmen yang perlu kita
ikat dihadapanNya. Sebagai balasan mahluk kepada Penciptanya yang telah
mengasihi dan mengampuni. Yaitu komitmen ketaatan dan menjaga ketakwaan. Dengan
tidak lagi memperturutkan hawa nafsu. Dimana nafsu itulah yang melalaikan kita
dari Allah dan berkali-kali dibodohi oleh tipu dayanya.
Hal paling mendasar yang diperoleh
dari Ramadhan adalah keberhasilan menutup pintu utama dari hawa nafsu. Yaitu pintu
: Berkenyang-kenyang. Sebagaimana disampaikan oleh Imam Al-Ghazali bahwa pintu
masuknya syahwat hawa nafsu adalah adalah bermanja-manja memenuhi urusan perut.
Alias banyak makan. Hatta itu makanan halal.
Selama Ramadhan kita sudah
merasakan hikmah dari menahan lapar. Kalau mau memperhatikan keadaan diri lebih
detail, kita akan mendapati betapa lapar telah membuat kita menjadi pribadi
seutuhnya. Manusia merdeka dengan hawa nafsu yang tak lagi sepenuhnya berkuasa.
Memang sebagian kita akan mengeluhkan kondisi lapar menyebabkan menurunnya
produktifitas dan lemas. Tapi InsyaAllah, itu hanya di awal-awal saja, efek shock
dari melemahnya syahwat dan hawa nafsu. Sementara lihatlah bagaimana diri ini
lebih bisa mengontrol untuk menjauhi maksiat, mudah ingat kepada Allah, dan
beberapa orang berhasil merasakan nikmatnya penghambaan kepada Allah justru
saat kondisi lapar.
Memang sangat diragukan sekali
bahwa semua orang akan merasakan hikmah puasa seperti dikemukakan di atas. Tapi
semoga kita termasuk yang mendapat hikmah itu. Bukan yang merasa lega karena
berhasil keluar dari “tekanan” Ramadhan. Lalu kembali menjadi si tamak yang hoby
menampung segala makanan.
Semoga anda sudah merasakan
hikmah lapar. Bahkan mungkin saja lapar telah mengantarkan jiwa anda pada
suasana rendah dihadapan Allah, lalu andapun menjadikan lapar sebagai
kenikmatan. Bila demikian, selamat dan bersyukurlah. Semoga ini menjadi
pertanda Allah ridha terhadap Ramadhan dan seluruh kehidupan kita sebakda
Ramadhan. Lalu setelah itu pertahankan apa yang sudah susah payah kita raih itu.
Berkomitmenlah untuk tidak menjadi manusia yang terkenal hobi
berkenyang-kenyang. Jangan lagi manjakan perut. Jangan lagi memanjakan syahwat.
Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita.
Menepilah, Jernihkan Hatimu
Berikhtiar dalam ragam potensi duniawi adalah dibolehkan dan dianjurkan. Bahkan hukumnya wajib, agar bisa menafkahi keluarga dan tidak membebani orang lain. Dalam Islam juga menganjurkan pergaulan. Asal pergaulan itu tidak melanggar syariat Allah, maka ia dibolehkan bahkan berpahala bila diniatkan untuk kebaikan.
Dalam pergaulan dan hubungan dengan makhluk (manusia), kita memperoleh bermacam-macam kesan. Kadang kesan itu baik, membuat kita semakin dekat dengan Allah. Seperti, mendengar ceramah-ceramah para mubaligh. Atau hati kita terkesan oleh perbuatan seseorang yang kita anggap inspiratif.
Kadang pula, dari pergaulan dengan makhluk juga menorehkan kesan buruk di hati kita. Torehan buruk itu ada dua. Pertama berasal dari orang lain yang sengaja mempengaruhi kita. Misalkan, diajak teman untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Allah. Jelas ini akan membuat hati kita menghitam.
Kedua, torehan buruk itu berasal dari hawa nafsu kita sendiri dan tidak ada hubungannya dengan orang lain. Misalkan, berjumpa dengan orang yang secara harta, keilmuan atau jabatan berada dibawah kita. Maka disadari atau tidak, hawa nafsu yang tabiatnya cinta kedudukan akan berusaha menggoreskan di hati kita rasa sombong dan meremehkan. Bila nafsu berhasil, jadilah pandangan kita terhadap orang tersebut berupa pandangan meremehkan. Sebaliknya juga, berjumpa dengan orang yang kaya dan berkedudukan. Tiba-tiba hawa nafsu kita mengajak kita untuk cari muka, bergantung, dan menghormatinya berlebihan kalau tak dibilang menjilat. Anda tahu, bersamaan dengan sikap cari muka ini, rasa bergantung kita kepada Allah akan menguap dari hati.
Kalau tidak dengan cara cari muka, hawa nafsu akan meniupkan rasa iri dan dengki kepada orang yang kita lihat lebih daripada kita. Cari muka dan mendengki, kedua-duanya sama-sama perangai orang kurang iman.
Ada pula kesan lain yang muncul saat berinteraksi dengan makhluk. Yaitu pergaulan dengan mereka berpotensi menggeser orientasi hidup kita. Hal-hal yang masuk ke kepala dari mata kita, melihat jam tangan bermerk mereka, mobil mereka, busana mereka, kesenangan mereka, mendengar cerita-cerita kesuksesan mereka, kadang mengusik rasa ketawakkalan kita kepada Allah. Dalam keadaan ini, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Yang berhasil, mereka mungkin mengambil inspirasi untuk bergerak dan bangkit menjemput impian-impian kesenangan yang dihalalkan. Namun mereka tetap sadar bahwa semua kembali kepada takdir Allah. Cara bisa ditiru, tapi hasil belum tentu sama. Sesuai takdirnya.
Tapi ada banyak yang gagal. Yaitu mereka yang menanggalkan rasa tawakkal. Lalu mereka heboh seperti orang yang baru dibangunkan dari nyenyaknya tidur. Kenyamanannya selama ini dalam menerima ketentuan Allah, dianggapnya sebagai pilihan yang salah. Ya, semua diukurnya dengan ukuran dunia. Tidak mengukur dengan kebersihan hati. Mereka kehilangan qonaah. Mereka mengecewai takdir. Mereka semakin jauh dari Allah.
Dalam pergaulan dan hubungan dengan makhluk (manusia), kita memperoleh bermacam-macam kesan. Kadang kesan itu baik, membuat kita semakin dekat dengan Allah. Seperti, mendengar ceramah-ceramah para mubaligh. Atau hati kita terkesan oleh perbuatan seseorang yang kita anggap inspiratif.
Kadang pula, dari pergaulan dengan makhluk juga menorehkan kesan buruk di hati kita. Torehan buruk itu ada dua. Pertama berasal dari orang lain yang sengaja mempengaruhi kita. Misalkan, diajak teman untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Allah. Jelas ini akan membuat hati kita menghitam.
Kedua, torehan buruk itu berasal dari hawa nafsu kita sendiri dan tidak ada hubungannya dengan orang lain. Misalkan, berjumpa dengan orang yang secara harta, keilmuan atau jabatan berada dibawah kita. Maka disadari atau tidak, hawa nafsu yang tabiatnya cinta kedudukan akan berusaha menggoreskan di hati kita rasa sombong dan meremehkan. Bila nafsu berhasil, jadilah pandangan kita terhadap orang tersebut berupa pandangan meremehkan. Sebaliknya juga, berjumpa dengan orang yang kaya dan berkedudukan. Tiba-tiba hawa nafsu kita mengajak kita untuk cari muka, bergantung, dan menghormatinya berlebihan kalau tak dibilang menjilat. Anda tahu, bersamaan dengan sikap cari muka ini, rasa bergantung kita kepada Allah akan menguap dari hati.
Kalau tidak dengan cara cari muka, hawa nafsu akan meniupkan rasa iri dan dengki kepada orang yang kita lihat lebih daripada kita. Cari muka dan mendengki, kedua-duanya sama-sama perangai orang kurang iman.
Ada pula kesan lain yang muncul saat berinteraksi dengan makhluk. Yaitu pergaulan dengan mereka berpotensi menggeser orientasi hidup kita. Hal-hal yang masuk ke kepala dari mata kita, melihat jam tangan bermerk mereka, mobil mereka, busana mereka, kesenangan mereka, mendengar cerita-cerita kesuksesan mereka, kadang mengusik rasa ketawakkalan kita kepada Allah. Dalam keadaan ini, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Yang berhasil, mereka mungkin mengambil inspirasi untuk bergerak dan bangkit menjemput impian-impian kesenangan yang dihalalkan. Namun mereka tetap sadar bahwa semua kembali kepada takdir Allah. Cara bisa ditiru, tapi hasil belum tentu sama. Sesuai takdirnya.
Tapi ada banyak yang gagal. Yaitu mereka yang menanggalkan rasa tawakkal. Lalu mereka heboh seperti orang yang baru dibangunkan dari nyenyaknya tidur. Kenyamanannya selama ini dalam menerima ketentuan Allah, dianggapnya sebagai pilihan yang salah. Ya, semua diukurnya dengan ukuran dunia. Tidak mengukur dengan kebersihan hati. Mereka kehilangan qonaah. Mereka mengecewai takdir. Mereka semakin jauh dari Allah.
Al Qura'an Bicara Cinta
Cinta seharusnya dirawat dan tumbuh di lahan yang benar. Cinta tak seharusnya jatuh pada sesuatu yang buruk, kotor, dan merusak. Cinta bagi seorang mukmin, bukan hanya cinta antar manusia. Tapi yang lebih penting hubungan cinta hamba dengan Sang Pencipta. Betapa kalau kita mau menyederhanakan, sunngguh sebagian orang akan menemui Surganya kelak, karena cinta yang ada dihatinya. Juga sebagian yang lain menemui Neraka, juga karena cintanya.
Cinta ada di ruang rasa. Sementara rasa (atau perasaan), adalah sumber lahirnya sikap dan perbuatan. Orang akan melakukan sesuatu hal yang DIRASANYA nyaman dan enak. Sebaliknya, orang akan enggan melakukan sesuuatu hal yang DIRASANYA tidak nyaman dan tidak enak. Sehingga cinta adalah kendali utama dalam menentukan pilihan sikap dan perbuatan. Disinilah kekeliruan cinta akan berujung pada kehancuran. Sebagaimana Nabi Isa pernah berkata, “cinta dunia adalah pokok dari segala perbuatan dosa”.
Al-Quran, sebagai firman Allah subhanahu wa ta’la telah menjelaskan kepada kita tentang cinta. Bahkan sesungguhnya, semua keindahan dan keagungan ayat Al-Quran adalah manifestasi dari cinta itu sendiri. Ya, cinta Allah kepada hambaNya. Dalam wujud ia memberikan petunjuk keselamatan berupa diturunkannya wahyu yang berisi arahan, bimbingan, pengenalan Diri-Nya dan penjelasan hukum-hukumNya. Lalu dengan mengihlaskan diri hidup dibawah naungan Al-Quran, seorang hamba akan mendapati jalan keselamatan.
Bila kita mengamati isi yang tertuang dalam Al-Quran, kita akan mendapati empat dimensi cinta. Yaitu : cinta Allah terhadap makhluknya, cinta makhluk kepada Tuhannya, cinta makhluk kepada sesama mahluk, dan cinta makhluk kepada dunia.
Kita akan membahas dan merenungi secara singkat keempat cinta yang dijelaskan oleh Al-Quran tersebut. Dalam uraian-uraiannya akan nampak agak filosofis memang. Tapi semoga tak berujung pada kita mengernyitkan dahi. Semua inspirasi tema ini diambil dari kitab “Al-hubb fii Al-Quran” (cinta di dalam Al-Quran), karangan ulama kharismatik Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, semoga Allah merahmatinya. Dikisahkan, saat beliau mendaras karyanya ini, di hadapan ribuan jamaah pengajian rutin di masjid Ar-rifai Damaskus, banyak jamaah yang tersentuh dan menangis. Mereka merasa sedang dibimbing menemukan cinta sejatinya. Mereka merasa sedang ditelanjangi kebohongan cintanya kepada Allah. Mereka seakan sedang diobati keriduan fitrahnya. Perpaduan antara kedalaman hikmah dan kejernihan hati penyampainya, membuat hikmah itu masuk ke dalam relung hati para pendengarnya.
Seperti yang kita ketahui, bulan Ramadhan memiliki nama syahrul Quran, atau bulan Al-Quran. Bulan turunnya Al-Quran. Kita sebagai manusia hari ini, memaknainya sebagai momentum peningkatan interaksi dan kemesraan dengan Al-Quran.
Kemesraan kita kali ini dengan Al-Quran, akan kita gugah dengan melihat Al-Quran sebagai mata air cinta. Ia berbicara dalam segala bentuk hukum, perintah, larangan, ancaman, dan janjinya sebagai wujud cinta Allah kepada makhluknya. Semoga Allah memberikan petunjuk dan rahmatNya untuk kita semua.
Cinta ada di ruang rasa. Sementara rasa (atau perasaan), adalah sumber lahirnya sikap dan perbuatan. Orang akan melakukan sesuatu hal yang DIRASANYA nyaman dan enak. Sebaliknya, orang akan enggan melakukan sesuuatu hal yang DIRASANYA tidak nyaman dan tidak enak. Sehingga cinta adalah kendali utama dalam menentukan pilihan sikap dan perbuatan. Disinilah kekeliruan cinta akan berujung pada kehancuran. Sebagaimana Nabi Isa pernah berkata, “cinta dunia adalah pokok dari segala perbuatan dosa”.
Al-Quran, sebagai firman Allah subhanahu wa ta’la telah menjelaskan kepada kita tentang cinta. Bahkan sesungguhnya, semua keindahan dan keagungan ayat Al-Quran adalah manifestasi dari cinta itu sendiri. Ya, cinta Allah kepada hambaNya. Dalam wujud ia memberikan petunjuk keselamatan berupa diturunkannya wahyu yang berisi arahan, bimbingan, pengenalan Diri-Nya dan penjelasan hukum-hukumNya. Lalu dengan mengihlaskan diri hidup dibawah naungan Al-Quran, seorang hamba akan mendapati jalan keselamatan.
Bila kita mengamati isi yang tertuang dalam Al-Quran, kita akan mendapati empat dimensi cinta. Yaitu : cinta Allah terhadap makhluknya, cinta makhluk kepada Tuhannya, cinta makhluk kepada sesama mahluk, dan cinta makhluk kepada dunia.
Kita akan membahas dan merenungi secara singkat keempat cinta yang dijelaskan oleh Al-Quran tersebut. Dalam uraian-uraiannya akan nampak agak filosofis memang. Tapi semoga tak berujung pada kita mengernyitkan dahi. Semua inspirasi tema ini diambil dari kitab “Al-hubb fii Al-Quran” (cinta di dalam Al-Quran), karangan ulama kharismatik Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, semoga Allah merahmatinya. Dikisahkan, saat beliau mendaras karyanya ini, di hadapan ribuan jamaah pengajian rutin di masjid Ar-rifai Damaskus, banyak jamaah yang tersentuh dan menangis. Mereka merasa sedang dibimbing menemukan cinta sejatinya. Mereka merasa sedang ditelanjangi kebohongan cintanya kepada Allah. Mereka seakan sedang diobati keriduan fitrahnya. Perpaduan antara kedalaman hikmah dan kejernihan hati penyampainya, membuat hikmah itu masuk ke dalam relung hati para pendengarnya.
Seperti yang kita ketahui, bulan Ramadhan memiliki nama syahrul Quran, atau bulan Al-Quran. Bulan turunnya Al-Quran. Kita sebagai manusia hari ini, memaknainya sebagai momentum peningkatan interaksi dan kemesraan dengan Al-Quran.
Kemesraan kita kali ini dengan Al-Quran, akan kita gugah dengan melihat Al-Quran sebagai mata air cinta. Ia berbicara dalam segala bentuk hukum, perintah, larangan, ancaman, dan janjinya sebagai wujud cinta Allah kepada makhluknya. Semoga Allah memberikan petunjuk dan rahmatNya untuk kita semua.
Udah Sya'ban, Ayo Latihan !
Tak terasa waktu telah mengantarkan kita kembali di depan pintu gerbang bulan Ramadhan. Bulan depan, InsyaAllah kita akan merasakan lagi nuansa keindahan dan kekhusyukan bulan suci. Siapapun yang hatinya ada keimanan, pasti akan merindukannya. Merindukan tarawihnya, buka puasanya, makmur masjidnya, qiyamullailnya, i’tikafnya, atau bahkan lapar dahaganya.
Bulan sya’ban ibarat pintu gerbang bulan Ramadhan. Berada di bulan ini, bayangkanlah oleh kita sedang berada di depan pintu “tuan rumah” yang akan kita kunjungi. Kondisinya mirip ketika kita mau sowan ke rumah seorang alim yang disegani. Selama perjalanan mungkin kita masih berhambur dalam canda tawa dan sikap yang tak terjaga. Akan tetapi ketika kendaraan sudah berhenti di depan pintu gerbang. Tiba-tiba kita sigap menata diri. “sttt”, bisik teman kita, “jangan ramai, jaga sikap, kita sudah sampai”. Meskipun belum ditemui sang tuan rumah, kita sudah berlatih membawa diri, sibuk membetulkan jilbab dan pakaian, memperhatikan ulang penampilan, bahkan hal kecil sekedar memastikan ulang cara senyum sudah benar atau tidak juga kita perhitungkan.
Memahami bulan sya’ban juga semestinya demikian. Ianya adalah bulan latihan. Bulan persiapan menjelang perjumpaan dengan bulan agung bulan Ramadhan. Segala sesuatunya harus kita persiapkan mulai sekarang. Latihan itu sekarang, bukan menunggu Ramadhan datang. Sebab, harus dipertanyakan kematangan berfikirnya, apabila ada seorang tamu baru menata diri ketika tuan rumah sudah menerima kedatangan. Baru menyisir rambut, baru buka cermin dan pakai bedak, padahal sang tuan rumah sudah menunggu mulainya pembicaraan.
Adalah keliru besar apabila kita mendadak sholeh hanya ketika sudah masuk bulan Ramadhan. Biasanya menjadi baik secara mendadak tidak memberikan hasil apa-apa kecuali sedikit saja. Tidak bertahan lama. Sebab ia belum benar-benar menjadi sikap diri dan hanya sebatas hegemoni permukaan.
Sekali lagi jangan menunggu datangnya Ramadhan baru sibuk merubah kebiasaan. Untungnya Ramadhan adalah nama bulan, bukan sesosok orang. Andai Ramadhan adalah orang dan kita bertamu betulan dengan penampilan acak-acakan, maka sangat pantas kita terusir dan tersingkirkan. Ah, tiba-tiba kita jadi menghubung-hubungkan. Barangkali tak maksimalnya Ramadhan-ramadhan yang telah lalu, ada sebab kita yang kurang persiapan. Kita menjadi pecundang yang terusir dan tersingkir, justru saat orang lain bergembira dan bersemangat mengejar kebaikan. Karena di syakban, yang adalah halaman Ramadhan, kita masih bergumul dengan kelalaian.
Maka inilah syakban, ayo latihan.
Bulan sya’ban ibarat pintu gerbang bulan Ramadhan. Berada di bulan ini, bayangkanlah oleh kita sedang berada di depan pintu “tuan rumah” yang akan kita kunjungi. Kondisinya mirip ketika kita mau sowan ke rumah seorang alim yang disegani. Selama perjalanan mungkin kita masih berhambur dalam canda tawa dan sikap yang tak terjaga. Akan tetapi ketika kendaraan sudah berhenti di depan pintu gerbang. Tiba-tiba kita sigap menata diri. “sttt”, bisik teman kita, “jangan ramai, jaga sikap, kita sudah sampai”. Meskipun belum ditemui sang tuan rumah, kita sudah berlatih membawa diri, sibuk membetulkan jilbab dan pakaian, memperhatikan ulang penampilan, bahkan hal kecil sekedar memastikan ulang cara senyum sudah benar atau tidak juga kita perhitungkan.
Memahami bulan sya’ban juga semestinya demikian. Ianya adalah bulan latihan. Bulan persiapan menjelang perjumpaan dengan bulan agung bulan Ramadhan. Segala sesuatunya harus kita persiapkan mulai sekarang. Latihan itu sekarang, bukan menunggu Ramadhan datang. Sebab, harus dipertanyakan kematangan berfikirnya, apabila ada seorang tamu baru menata diri ketika tuan rumah sudah menerima kedatangan. Baru menyisir rambut, baru buka cermin dan pakai bedak, padahal sang tuan rumah sudah menunggu mulainya pembicaraan.
Adalah keliru besar apabila kita mendadak sholeh hanya ketika sudah masuk bulan Ramadhan. Biasanya menjadi baik secara mendadak tidak memberikan hasil apa-apa kecuali sedikit saja. Tidak bertahan lama. Sebab ia belum benar-benar menjadi sikap diri dan hanya sebatas hegemoni permukaan.
Sekali lagi jangan menunggu datangnya Ramadhan baru sibuk merubah kebiasaan. Untungnya Ramadhan adalah nama bulan, bukan sesosok orang. Andai Ramadhan adalah orang dan kita bertamu betulan dengan penampilan acak-acakan, maka sangat pantas kita terusir dan tersingkirkan. Ah, tiba-tiba kita jadi menghubung-hubungkan. Barangkali tak maksimalnya Ramadhan-ramadhan yang telah lalu, ada sebab kita yang kurang persiapan. Kita menjadi pecundang yang terusir dan tersingkir, justru saat orang lain bergembira dan bersemangat mengejar kebaikan. Karena di syakban, yang adalah halaman Ramadhan, kita masih bergumul dengan kelalaian.
Maka inilah syakban, ayo latihan.
Beautiful of Raudhoh (Taman Surga)
Raudhatul Jannah (Raudhah) atau taman Surga, yang ada di Madinah selalu penuh sesak. Setiap orang yang berziarah ke Madinah, akan dihinggapi perasaan rugi bila tak berhasil satu rakaat saja sholat di area Raudhah. Yang demikian itu bukanlah sesuatu yang berlebihan. Sebab, nabi memang telah menjelaskan keutamannya.
Dalam sebuah hadist shahih riwayat.....Rosulullah bersabda: “diantara mimbar dan rumahku adalah raudhah (taman) diantara taman-taman Surga” Nabi menyebut area taman Surga itu sejarak mimbar dan rumah beliau. Pengurus Masjid Nabawi menandai area yang terletak di sisi kanan bagian depan Masjid Nabawi tersebut dengan karpet berwarna hijau. Menjadi pembeda dengan area masjid Nabawi lain yang seluruh lantainya diselimuti karpet berwarna merah.
Bersyukurlah bagi kita yang sudah pernah ditakdirkan Allah berziarah ke Madinah dan mendatangi raudhah. Kita tahu, tidak mudah bisa berada di area taman Surga tersebut. Butuh perjuangan, harus sabar dalam antrian. Disitu ada ratusan bahkan ribuan orang yang memperebutkan satu tempat di area sakral tersebut. Anda bisa membayangkan, area yang tak lebih besar dari luas lapangan bulu tangkis, diperebutkan oleh ribuan orang. Betapa penuh sesak. Bisa dipastikan, kalau ingin masuk, anda harus siapkan tekad kuat, siap berjibaku dan berdesakan. Kalaupun sudah masuk, mencari ruang untuk sekedar duduk saja tidak mudah. Apalagi untuk sujud.
Tapi semua kesusahan itu, faktanya tidak mengurangi kekhusyukan dan teraduk-aduknya perasaan. Banyak air mata tumpah membasahi sang karpet hijau. Dalam berdirinya sholat yang sambil ditabrak-tabrak orang, dalam sujud dan rukuk yang terlalu menekuk, justru jiwa ini lebih tertunduk dan khusyuk. Barangkali suasana batin itu didapat disebabkan luapan perasaan usai berjuang berat untuk masuk di dalamnya. Atau justru karena bersarnya keyakinan kita terhadap rahasia keberkahan raudhah. Ya, kita yakin Raudhah adalah satu bagian dari Surga yang Allah titipkan di dunia. Benar, jangan samakan Raudhah dengan tempat lain. Sholat di dalamnya, sama seperti sholat di dalam Surga. Berdiam di dalamnya, adalah berdiam di dalam Surga. Karenanya, apapun kita rela lakukan asal kita bisa ada di dalamnya meskipun hanya sebentar saja.
Bila sudah tahu keutamannya, ijinkan kami bertanya,dalam setahun berapa puluh kali kita ke raudhah? Dalam sebulan berapa kali kita mengunjungi raudhah? Dalam seminggu berapa kali?
Mungkin kita akan menjawab, “anda ada-ada saja, kalau bukan penduduk Madinah sendiri atau mereka yang punya uang banyak sehingga setiap bulan berangkat Umroh, ya tidak mungkin bisa ke raudhah puluhan kali dalam setahun”. Benar. Tidak mudah. Apalagi yang belum pernah berhaji dan umroh, mendengar pertanyaan itu justru bisa bikin tambah terharu biru.
Akan tetapi, betapa Maha Pemurah dan adilnya Allah. Melalui lisan nabinya, Dia kabarkan bahwa raudhah tak hanya ada di masjid Nabawi. Ada satu Raudhah lagi yang Dia titipkan di belahan-belahan bumi. Barangkali agar mereka yang tak bisa ke kota nabinya, tetap bisa merasakan taman Surga. Agar yang sudah pernah ke madinah, bisa tetap melepas rindunya. Dan menariknya lagi, Ia tak sesulit raudhah di madinah. Ia tak bersyarat bayar biaya Haji dan Umroh agar bisa merasakan ada didalamnya. Soal keutamaan, berdasar hadits nabi yang mengiringanya, sepertinya tidak kalah dengan raudhah di madinah. Mau?, kiranya dimanakah Raudhah yang lain itu?
Dalam sebuah hadist shahih riwayat.....Rosulullah bersabda: “diantara mimbar dan rumahku adalah raudhah (taman) diantara taman-taman Surga” Nabi menyebut area taman Surga itu sejarak mimbar dan rumah beliau. Pengurus Masjid Nabawi menandai area yang terletak di sisi kanan bagian depan Masjid Nabawi tersebut dengan karpet berwarna hijau. Menjadi pembeda dengan area masjid Nabawi lain yang seluruh lantainya diselimuti karpet berwarna merah.
Bersyukurlah bagi kita yang sudah pernah ditakdirkan Allah berziarah ke Madinah dan mendatangi raudhah. Kita tahu, tidak mudah bisa berada di area taman Surga tersebut. Butuh perjuangan, harus sabar dalam antrian. Disitu ada ratusan bahkan ribuan orang yang memperebutkan satu tempat di area sakral tersebut. Anda bisa membayangkan, area yang tak lebih besar dari luas lapangan bulu tangkis, diperebutkan oleh ribuan orang. Betapa penuh sesak. Bisa dipastikan, kalau ingin masuk, anda harus siapkan tekad kuat, siap berjibaku dan berdesakan. Kalaupun sudah masuk, mencari ruang untuk sekedar duduk saja tidak mudah. Apalagi untuk sujud.
Tapi semua kesusahan itu, faktanya tidak mengurangi kekhusyukan dan teraduk-aduknya perasaan. Banyak air mata tumpah membasahi sang karpet hijau. Dalam berdirinya sholat yang sambil ditabrak-tabrak orang, dalam sujud dan rukuk yang terlalu menekuk, justru jiwa ini lebih tertunduk dan khusyuk. Barangkali suasana batin itu didapat disebabkan luapan perasaan usai berjuang berat untuk masuk di dalamnya. Atau justru karena bersarnya keyakinan kita terhadap rahasia keberkahan raudhah. Ya, kita yakin Raudhah adalah satu bagian dari Surga yang Allah titipkan di dunia. Benar, jangan samakan Raudhah dengan tempat lain. Sholat di dalamnya, sama seperti sholat di dalam Surga. Berdiam di dalamnya, adalah berdiam di dalam Surga. Karenanya, apapun kita rela lakukan asal kita bisa ada di dalamnya meskipun hanya sebentar saja.
Bila sudah tahu keutamannya, ijinkan kami bertanya,dalam setahun berapa puluh kali kita ke raudhah? Dalam sebulan berapa kali kita mengunjungi raudhah? Dalam seminggu berapa kali?
Mungkin kita akan menjawab, “anda ada-ada saja, kalau bukan penduduk Madinah sendiri atau mereka yang punya uang banyak sehingga setiap bulan berangkat Umroh, ya tidak mungkin bisa ke raudhah puluhan kali dalam setahun”. Benar. Tidak mudah. Apalagi yang belum pernah berhaji dan umroh, mendengar pertanyaan itu justru bisa bikin tambah terharu biru.
Akan tetapi, betapa Maha Pemurah dan adilnya Allah. Melalui lisan nabinya, Dia kabarkan bahwa raudhah tak hanya ada di masjid Nabawi. Ada satu Raudhah lagi yang Dia titipkan di belahan-belahan bumi. Barangkali agar mereka yang tak bisa ke kota nabinya, tetap bisa merasakan taman Surga. Agar yang sudah pernah ke madinah, bisa tetap melepas rindunya. Dan menariknya lagi, Ia tak sesulit raudhah di madinah. Ia tak bersyarat bayar biaya Haji dan Umroh agar bisa merasakan ada didalamnya. Soal keutamaan, berdasar hadits nabi yang mengiringanya, sepertinya tidak kalah dengan raudhah di madinah. Mau?, kiranya dimanakah Raudhah yang lain itu?
Pembangkit Semangat
Keyakinan merupakan akar dari segala pilihan bersikap. Seseorang berbuat sesuai apa yang ia yakini. Dan diantara keyakinan-keyakinan itu, orang beriman yang yakin kepada Allah adalah pemilik sikap positif yang tidak ada tandingannya. Firman-firman Allah yang ada di dalam Al-Quran, yang oleh orang-orang mukmin dibaca, direnungi, diyakini dan diamalkan, menjadi pintu penghubung antara dunia dan hakikatnya. Al-Quran memberikan kesadaran, jalan keluar, optimis, semangat, ketenangan dan ketentraman hati.
Al-Quran adalah firman Allah. Firman Sang Maha Pencipta. Mereka yang dikaruniai keyakinan hati dan hidupnya bernaung kepadanya, sungguh beruntung dan patut diberikan ucapan selamat. Bukan hanya mereka akan mendapatkan tuntunan arah pulang kepada Allah yang benar dan tidak tersesat. Tapi juga, rahasia-rahasia hidup yang dipaparkan Al-Quran membuat orang beriman menjalani urusan dunianya dengan tenang dan optimis.
Kita tidak bisa membayangkan keadaan seseorang yang tidak memiliki keyakinan akan adanya masa depan yang baik. Kita tidak bisa membayangkan betapa semu dan jenuhnya kehidupan orang yang tak punya harapan. Akar-akar tanaman rela bergerak, menyusur, bertenaga menembus tanah liat, berkemampuan melintasi bebatuan, adalah karena ada harapan air yang ingin ia peroleh. Karena pergerakan akar itulah, sunnatullahnya kemudian ia berhasil mengakkan batangnya, menyelamatkan kekeringan daunnya dan meranumkan buahnya. Itulah keadaan orang-orang mukmin yang bernaung diri dibawah bimbingan Al-Quran. Al-Quran telah membuncahkan segala harapan dan optimisme masa depan. Masa depan orang mukmin terisi oleh bayang-bayang “hayatan thayyiban (kehidupan yang baik)” dan “Surga”. Mereka terpenuhi oleh semangat, dimana semangat itu ia peroleh dari keyakinan bahwa “Allah sebaik-baik pemberi balasan dan Dia tidak pernah mengingkari janjiNya”.
Mari kita yakini Al-Quran sebagai pedoman hidup terbaik dan mulai mengakrabkan diri dengannya. Mulailah terbiasa mencari jawaban atas setiap persoalan kepada Al-Quran. Sebagai penggugah keimanan, kali ini kita akan mengunduh semangat hidup dari 4 ayat di dalam Al-Quran. Sepertinya ayat-ayat ini sudah akrab kita dengar. Empat ayat populer pembangkit semangat itu ada di Surat Ibrahim ayat 7, Surat Ar-Ra’du ayat 11, Surat Al-Baqoroh ayat 286, dan Surat Hud ayat 6. Meskipun ayat ini sudah biasa di majlis-ilmukan oleh para dai ataupun di artikelkan oleh para penulis, tidak ada salahnya untuk kita renungi kembali. Mudah-mudahan justru membuat kita semakin hafal dan karenanya mudah mengamalkan.
Tentu saja, kedahsyatan ayat-ayat tersebut akan terasa bila kita menjuumpainya dalam keadaan yakin kepadanya. Semoga bersamaan kita membaca dan merenunginya, bersamaan pula hikmah dan hidayah Allah turun ke dalam hati kita. Aamiin yaa Rabbal Alamiin.
Al-Quran adalah firman Allah. Firman Sang Maha Pencipta. Mereka yang dikaruniai keyakinan hati dan hidupnya bernaung kepadanya, sungguh beruntung dan patut diberikan ucapan selamat. Bukan hanya mereka akan mendapatkan tuntunan arah pulang kepada Allah yang benar dan tidak tersesat. Tapi juga, rahasia-rahasia hidup yang dipaparkan Al-Quran membuat orang beriman menjalani urusan dunianya dengan tenang dan optimis.
Kita tidak bisa membayangkan keadaan seseorang yang tidak memiliki keyakinan akan adanya masa depan yang baik. Kita tidak bisa membayangkan betapa semu dan jenuhnya kehidupan orang yang tak punya harapan. Akar-akar tanaman rela bergerak, menyusur, bertenaga menembus tanah liat, berkemampuan melintasi bebatuan, adalah karena ada harapan air yang ingin ia peroleh. Karena pergerakan akar itulah, sunnatullahnya kemudian ia berhasil mengakkan batangnya, menyelamatkan kekeringan daunnya dan meranumkan buahnya. Itulah keadaan orang-orang mukmin yang bernaung diri dibawah bimbingan Al-Quran. Al-Quran telah membuncahkan segala harapan dan optimisme masa depan. Masa depan orang mukmin terisi oleh bayang-bayang “hayatan thayyiban (kehidupan yang baik)” dan “Surga”. Mereka terpenuhi oleh semangat, dimana semangat itu ia peroleh dari keyakinan bahwa “Allah sebaik-baik pemberi balasan dan Dia tidak pernah mengingkari janjiNya”.
Mari kita yakini Al-Quran sebagai pedoman hidup terbaik dan mulai mengakrabkan diri dengannya. Mulailah terbiasa mencari jawaban atas setiap persoalan kepada Al-Quran. Sebagai penggugah keimanan, kali ini kita akan mengunduh semangat hidup dari 4 ayat di dalam Al-Quran. Sepertinya ayat-ayat ini sudah akrab kita dengar. Empat ayat populer pembangkit semangat itu ada di Surat Ibrahim ayat 7, Surat Ar-Ra’du ayat 11, Surat Al-Baqoroh ayat 286, dan Surat Hud ayat 6. Meskipun ayat ini sudah biasa di majlis-ilmukan oleh para dai ataupun di artikelkan oleh para penulis, tidak ada salahnya untuk kita renungi kembali. Mudah-mudahan justru membuat kita semakin hafal dan karenanya mudah mengamalkan.
Tentu saja, kedahsyatan ayat-ayat tersebut akan terasa bila kita menjuumpainya dalam keadaan yakin kepadanya. Semoga bersamaan kita membaca dan merenunginya, bersamaan pula hikmah dan hidayah Allah turun ke dalam hati kita. Aamiin yaa Rabbal Alamiin.
Langganan:
Komentar (Atom)

