Jumat, 25 November 2016

Dekatkan Jarak dengan Anak Yatim

Kehilangan orang tua, bagi anak-anak yatim, pada hakikatnya bukanlah sebuah kekurangan. Penegasan dari hal ini adalah, Rasulullah sendiri hidup sebagai seorang anak yatim. Ayah beliau meninggal semasa dalam kandungan. Ibundanya turut meninggalkannya di usia 6 tahun. Sungguh keadaan nabi yang yatim tersebut telah meninggalkan sebuah fahaman mendasar bagi kita. Bahwa ia menjadi semacam stempel atau tanda kemuliaan bagi anak-anak yatim, yang tanda itu tidak akan pernah terhapus sampai kapanpun hingga hari kiamat.

Orang tua anak-anak yatim itu meninggal, adalah sebuah takdir hidup yang jalannya kelak seperti apa, hanya Allah yang Mengetahui. Yang pasti, mereka dimuliakan oleh Allah. Dengan segala hikmah yang hanya Allah saja yang tahu, Allah ta’ala sendiri yang mengambil orangtuanya dari kehidupan anak yatim itu. Maka ketentuan Allah selanjutnya adalah, penjagaan dan pembelaanNya kepada anak-anak yatim itu menjadi lebih besar dari anak-anak umumnya. Salah satunya, kita sudah sangat sering dengar peringatan keras di ayat ini, “Tahukah kamu siapa pendusta agama itu? Yaitu mereka yang menghardik yatim” (QS. Al-Maun : 1-2)

Surat Al-Maun tersebut adalah bentuk pembelaan Allah kepada anak-anak Yatim. Sebuah ancaman yang rasanya tidak ada lagi yang lebih mengancam di atas itu. Sebaliknya, kasih sayang Allah kepada anak yatim juga diwujudkan dengan jaminan kemuliaan dan pertolonganNya kepada siapapun yang menolong anak Yatim. Begitulah, kemana-mana anak-anak yatim itu seakan berada dalam “gandengan tangan” Ar-Rahman.

Berikutnya mari kita melihat sisi lain dalam kehidupan hari ini. Sekelompok manusia dewasa sedang menghadapi tuntutan usianya. Mereka bekerja lalu kelelahan, menghadapi masalahnya, memperjuangkan hidup, jatuh sakit, kehilangan pegangan, berada dalam tuntutan status, atau sedang disadarkan dosa lalu takut dengan konsekuensi dunia akhiratnya. Manusia dewasa, seperti kita, menghabiskan banyak tenaga untuk itu semua. Diantaranya menjadi pahala, kadang sia-sia, bahkan seringnya jatuh pada dosa.

Pada amal yang di forsir itulah kadang berpengaruh pada bagian paling berharga dalam diri kita, yaitu hati. Ia mengeras, tak lagi lunak. Kalau masih ada sisa kejernihan, akan terasa tak nyaman dengan kondisi hati yang memar ini.

Saat itulah kita butuh penawar. Banyak cara untuk melembutkannya kembali. Salah satunya nabi mengajarkan untuk menjumpai anak-anak yatim dan mengusap kepalanya sebagai ungkapan kasih sayang. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada  Rasulullah mengeluhkan kekerasan hatinya, lalu Rasulullah saw berkata kepadanya, “jika engkau ingin hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Baihaqi).

Memang anak yatim hadir sebagai pribadi yang kelak sebagaimana kita, akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri. Tapi ia juga telah ditegaskan wahyu bahwa keyatimannya memberikan implikasi kepada orang lain. Bahwa hakikatnya ia telah dipilih oleh Allah sebagai sarana kemuliaan yang sakral bagi orang disekitarnya. Akan dimuliakan orang yang memuliakan anak yatim. Sebaliknya, akan dihinakan mereka yang tak memuliakan anak yatim.


Kali ini kita akan mengingat ulang kedudukan-kedudukan mereka. Belajar lagi tentang sikap-sikap lembut nabi terhadap mereka. Agar makin besar kesadaran bahwa kita butuh kepada anak-anak Yatim itu. Wallahu A’lam Bisshowab

Waspada Doa Orang Terdzalimi

Dunia ini sejatinya tidak pernah berjalan sendiri sesuai kehendak penghuninya. Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai pencipta smesta, telah menetapkan hukum di atas ke-Maha Adilannya. Semuanya tunduk pada aturan dan hukum tersebut. Tidak ada satupun mahluk yang bisa keluar dan lolos dari pengaturanNya. Kebaikan akan dibalas kebaikan. Keburukan akan dibalas keburukan. Kerja keras ada balasannya. Tak berusaha juga tak mungkin menggapai cita-cita. Sabar dalam kekalahan akan berbalas kemenangan. Jumawa dalam kemenangan akan berbalas kekalahan. Tidak ada satupun yang luput dari perhitungan Allah subhanahu wa ta’ala. 

maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan balasan terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (balasan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.” (QS. Maryam : 84)

Salah satu ketetapan itu adalah, bahwa Allah tidak akan mendiamkan kedzaliman di muka bumi. Setiap  kedzaliman yang terjadi, setiap ada hak yang direnggut secara tidak adil, maka Allah subahanahu wa ta’ala menetapkan pembelaan atasnya. Kepadanya, orang yang terdzalimi itu, Allah membuka pintu pengkabulan doa selebar-lebarnya. Minta doa apa saja, pasti dikabulkan. Termasuk doa menuntut balas.

Rasulullah Saw bersabda : “takutlah kalian terhadap doa orang-orang yang terdzalimi, karena doa mereka akan dibawa ke langit, lalu Allah taala befirman “demi kemuliaanKu, demi keagunganKu, sampai kapanpun Aku akan senantiasa menolongmu” (HR. At-Thabrani)
Rasulullah juga bersabda : “Takutlah kalian dengan doa orang yang terdzalimi, karena doa mereka akan naik ke langit seperti pijaran api” (HR. Al Hakim)

Bahkan, sekalipun yang didzalimi adalah orang kafir dan pelakunya adalah muslim, maka orang kafir tersebut berada dalam pembelaan Allah dan orang muslim tersebut saat itu berada dalam dakwaan dari Allah. Rasulullah bersabda : “Takutlah kalian terhadap doa orang yang terdzalimi meskipun ia kafir, karena antara dirinya dengan Allah tidak ada penghalang” (HR. Ahmad)

Demikian beberapa peringatan dari Rasulullah. Agar kita berhati-hati dengan sikap dan perilaku kita. Jangan sampai ada hak orang lain yang kita renggut secara dzalim. Masih lebih baik apabila orang yang kita dzalimi membalas kedzaliman kita. Jadi impas. Justru yang lebih berbahaya adalah mereka yang sepertinya tidak menuntut apa-apa (karena merasa lemah) tapi dia bawa kepedihannya dalam doa kepada Allah. Sementara Allah ta’ala membuka pintu selebar-lebarnya untuk menjawab doa dan membela mereka. Lantas apabila Allah sendiri telah memberikan pembelaan, siapakah yang sanggup menghadapiNya?


Sebaliknya, inilah berita gembira bagi mereka yang terdzalimi. Tentu, bukan untuk mengajak menajamkan lisan lalu berdoa menuntut balas semata. Akan tetapi mari kita melihat satu makna yang lebih baik bagi kita daripada sekedar menuntut balas. Ya, bahwa “Allah bersama kita”. Allah ta’ala berpihak kepada kita. Allah memberi satu kedudukan mulia, dimana tak semua orang mendapatkannya. Yaitu janji terkabulnya doa, apapun doanya. Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkannya dengan doa yang baik dan bermanfaat. Wallahu A’lam Bisshowab.

Alhamdulillah Aku Sakit..!!

Dalam lebih banyak keadaan, Alhamdulillah adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba. Ia memuji Allah, karena telah diberikan karunia berupa kenikmatan-kenikmatan. Tapi bagaimana bila keadaan justru sebaliknya?. Sedang ditimpa musibah, atau sedang sakit, apakah masih ada ruang ber-Alhamdulillah?, apa yang hendak disyukuri dari sebuah penyakit? Dimana letak kenikmatannya sehingga perlu disyukuri?

Kita tidak akan memperoleh jawaban atas pertanyaan di atas, bila ukuran nikmat itu adalah kenikmatan fisik atau duniawi. Tentu, orang yang sakit tidak akan menikmati hidup senyaman orang sehat. Sakit adalah kesusahan, penderitaan, dan kesedihan bagi yang mengalami. Sebaliknya sehat adalah kenikmatan dan cerahnya kehidupan. Rasulullah bersabda : “dua nikmat yang banyak manusia tertipu,yaitu  nikmat sehat dan waktu luang” (HR. Bukhori)

Sabda Rasulullah tersebut menyiratkan bahwa sehat dan waktu luang merupakan sebuah kenikmatan. Maka hal-hal yang berkebalikan dengannya, seperti sakit dan kesibukan yang melelahkan, merupakan bagian dari tercabutnya nikmat. Akan tetapi bersamaan dengan itu, Rasulullah juga mengingatkan, bahwa sehat dan lapangnya waktu juga bisa menjadi pintu kelalaian seorang hamba.

Melalui celah fahaman inilah kita akan melihat sakit sebagai sebuat pengingat. Lalu kita akan menarik benang merah bahwa orang yang dibuat ingat, hakikatnya ia diberi nikmat. Sakit akan mengantarkan, kalau tak dibilang memaksa, seorang hamba untuk kembali pada kedudukan aslinya yang ringkih, lemah dan tidak berdaya. Dalam keadaan tak berdaya inilah ada harapan besar ia mengenal kemuliaan dan keagungan Allah ta’ala. Saat fisik dalam keadaan tak berdaya, justru dzikirnya menjadi makin memenuhi rasa. Kepada Allah harapnya bertambah, bergantungnya makin besar. Lantas, bagaimana mungkin Allah tak akan memperhatian hambaNya yang telah menyatakan diri lemah dan bergantung penuh kepadaNya?. Dalam keadaan seperti ini, kesegeraan sembuhnya akan menjadi karunia, panjangnya masa sakitnya juga tak membuatnya sengsara. Inilah Alhamdulillah yang pertama.

Dalam masa-masa perenungan, kesendirian, dan kesabaran saat sakit inilah kemudian Allah menambahkan janji-janji kebaikan. Salah satunya apa yang disabdakan oleh Rasulullah : ”Tidaklah dari seorang Muslim yang tertusuk duri atau yang lebih ringan (sakitnya) darinya, kecuali dicatat baginya derajat dan dihapus darinya dengan hal itu kesalahan (Riwayat Muslim). Inilah alasan ber-Alhamdulillah saat sakit yang kedua.

Alasan Alhamdulillah yang ketiga, adalah karena Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik doa adalah “Alhamdulillah” (HR. Tirmidzi). Bila kita yakin bahwa kesembuhan itu hanya milik Allah, dan doa adalah satu-satunya cara untuk mendapatkannya, maka berdoalah. Dan sebaik baik doa adalah “Alhamdulillah”. Maka ketika kita ditanya, “bagaimana sakitmu?”, kini kita akan menjawab “Alhamdulillah”. Karena dalam “Alhamdulillah” bukan hanya untuk menyibak kesedihan, tapi ia juga merupakan doa. Doa terbaik untuk kesembuhan diri kita. Dalam panjatan doa “Alhamdulillah”, ada khusnduzan, keyakinan, keridhaan. Dimana semua hal tersebut adalah tangga yang mempercepat terkabulnya segala hajat. Wallahu A’lam Bisshowab

Rabu, 14 September 2016

Dahaga Ruhani

Siapa yang paling tahu kebutuhan Ruhani kita?, jawabnya adalah tentu Sang Pembuatnya.Allah ta’ala, Sang Pencipta ruh manusia itu sendiri yang paling mengerti dan memahami . Adapun manusia, pemilik dan penggunanya, tidak kesemuanya benar-benar memahami kebutuhan Ruhaninya. Justru kebanyakan manusia mengabaikan hajat Ruhaninya dan lebih mementingkan syahwatnya.
Karena Allah subhanahu wa ta’ala yang paling tahu kebutuhan Ruhani, maka Dia memberikan kita seperangkat cara agar ruhani ini terjaga. Diantaranya adalah dengan shalat. Shalat yang paling utama adalah shalat 5 waktu. Lalu diikuti shalat sunnah lainnya.

Mengenai hikmah pembagian shalat 5 waktu itu, hanya Allah semata yang mengetahui. Namun setidaknya, kita bisa mengambil sebagian hikmah dari manfaat yang kita rasakan selama ini. Shalat terbagi-bagi dalam beberapa waktu, seperti menjadi pemberhentian dan rehat bagi kita. Kita hidup di dunia, setiap saat berjibaku dengan kesibukannya, menghadapi fitnah-fitnahnya, di kejar angan-angan. Disadari atau tidak ruhani akan mengalami kelelahan. Sibuknya kita terhadap dunia, lalu jiwa terbawa untuk mencintainya, membuat jiwa keluar dari jalur penghambaannya. Karena tidak mungkin kita bisa menyandingkan kecintaan kepada dunia dengan kecintaan kepada Allah dan akhirat. Allah ta’ala berfirman, “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua kecintaan dalam hatinya” (QS. Al-Ahzab : 4)


Saat keadaan seperti ini kita harus peka dan harus segera rehat. Maka Allah memberikan kewajiban shalat kepada kita. Hadir dalam beberapa waktu, bukan satu waktu. Seperti hausnya kita dan keinginan untuk minum. Kalau kita punya beberapa gelas air, kita tidak akan menghabiskannya dalam satu waktu. Kita akan meminumnya sebagian-sebagian, untuk membasahi tenggorakan dan menyegarkan mulut. Lalu beraktifitas, lalu minum lagi.

Maka bisa dibayangkan keadaan Ruhani orang yang tidak shalat. Dahaga ruhaninya ia abaikan. Sulitnya adalah, ia berada dalam kekeringan ruhani, justru saat “berbasah-basah” dengan gelimang dunia. Ruhaninya berada dalam kesengsaraan, justru saat mereka berada dalam kemewahan. Kalau haus air bisa terasa, tapi kalau haus ruhani, bisa tak terasa sama sekali. Kecuali orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan taufik dari Allah, saat merasa ruhaninya  mulai keruh, mereka bersegera meningkatkan ketaatan kepada Allah.

Apakah shalat bisa menjawab sepenuhnya kebutuhan Ruhani kita?, belum. Shalat yang akan memberikan kesegaran terhadap ruhani bukan sembarang shalat. Ia mensyaratkan khusyuk. Sebab, shalat hanyalah pengantar bagi Ruhani untuk menghadap dan berjumpa dengan yang dirindukannya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau shalat tak sampai membuat Ruhani merasa berjumpa dengan Allah ta’ala, lantaran kehilangan khusyuk, maka shalat kita hampir tak memberikan buah apa-apa. Pribadi yang membawa urusan dunianya kedalam shalatnya, jelas, usai melaksanakan shalat ia tak akan mendapati ruhaninya segar kembali.


Maka beruntunglah mereka yang mendapatkan karunia khusyuk. Ia telah mendapatkan karunia yang begitu mulia. Keruhnya dunia mensyaratkan kita untuk setiap waktu entas dan menyucikan kotorannya. Dan shalat yang khusyuk, adalah sarananya. Wallahu A’lam bisshowab

Rabu, 20 Juli 2016

Ibu, My Real Superhero


Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
***

Lirik lagu “Ibu” yang dinyanyikan Iwan Fals sayup-sayur terdengar memenuhi gendang telinga. Salah satu rekan kantor menggunakan tembang “Ibu” untuk ring tone handphone-nya. Lagu yang mengusung “ruh” sedemikian kuat, syair nan menyentuh, hingga sanggup menancapkan rasa bersalah di kalbu setiap anak, lantaran tak akan pernah bisa membalas jasa-jasa ibunda.
Sosok ibunda memang begitu dimuliakan dalam ajaran Islam. Rasulullah menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu...” sebelum kemudian menambahkan “Ayahmu...” tatkala seorang sahabat bertanya siapa yang harus kita hormati dan muliakan. Kendati demikian, entahlah... betapa lisan yang hina dan jiwa yang kering ini, kerap terjerembab dalam perilaku yang justru membuat ibu kita nelangsa.

Tidak jarang, kita amat menyepelekan kehadiran dan peran Ibu. Padahal beliau rela mengorbankan apa saja, demi mendidik dan membahagiakan kita, anak yang hadir melalui rahimnya.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya dengan menyapihnya adalah tiga puluh bulan….” (Al-Ahqaf: 15).
Coba kita telaah diri sendiri. Tahun 2016 sudah memasuki bulan ke-7. Pertanyaan ini saya tujukan kepada para perantau, ataupun Anda yang sudah tidak tinggal serumah dengan ibunda. Pertanyaannya, “Kapan terakhir kali Anda menelepon Ibu?” “Sejak 2016, sudah berapa kali Anda berkunjung menemui Ibu?” “Seberapa sering Anda memikirkan bagaimana keadaan, kabar ibunda kita?”

Bagaimana? Sudah ada jawabannya? Terkadang, kita mengontak beliau hanya bila ada maunya. Ketika minta didoakan supaya lulus promosi jabatan, atau ketika cucu beliau (yang notabene anak kita) sedang menghadapi ujian akhir. Tidak ada yang salah dengan itu. Ibunda di belahan bumi manapun tentu bahagia, manakala anak dan keturunannya juga tengah berjuang meniti tangga sukses dunia. Hanya saja, coba kita cermati sekali lagi, mengapa kita tidak menghubungi beliau untuk menanyakan kabar? Apakah kabar ibu tak lagi penting dalam hidup kita?

Kita tengah tertawa terbahak-bahak, bergelimang uang dan kesuksesan, setelah mengadu nasib di kota impian. Kita bersenda gurau dengan istri yang cantik bin kinclong, berwisata kuliner di restoran mewah bersama anak, lantas... apa yang tengah dilakukan ibunda? Jangan-jangan, sosok di mana surga kita ada di telapak kakinya itu, tengah menangis. Ia menahan sakit, menahan rindu yang teramat sangat pada sang buah hati. Jangan-jangan, sosok yang rela bertaruh antara hidup dan mati kala melahirkan kita itu, tengah merintih, lantaran hina-dina yang bertubi-tubi menyerang dari para tetangga? Jangan-jangan, beliau senantiasa menangis dalam sujud malamnya, mendoakan agar kita bahagia dan sukses di tanah perantauan. Di balik tubuhnya yang kian ringkih, ibunda selalu menyimpan isak tangis, agar kita, anaknya, mengira beliau selalu baik-baik saja.
Begitukah?

Astaghfirullahal ‘adzim... Betapa dzolim diri ini, kita bersenang-senang, selfie sana selfie sini, memuaskan dahaga hedonisme dengan beragam hiburan urban yang memperdaya dan melemahkan iman... Sementara itu, ibu kita... ibu yang melahirkan dengan segenap daya dan cinta... beliau tertunduk dalam doa dan tangis, bermunajat segala kebaikan tentang kita, anak yang nyaris tak pernah berpikir tentang kabar sang ibunda.

Ridho dan doa orang tua adalah “senjata utama” untuk menggapai sukses akherat dan dunia. Ridho Allah bergantung pada ridho orang tua. Murka Allah juga bergantung murka orang tua. Senyampang Ibunda masih ada, tunjukkan bakti terbaik kita! Jangan sampai penyesalan itu hadir, manakala Ibu telah berpulang. Lalu kita sibuk berandai-andai, “Andai Ibu masih hidup, saya akan selalu menyayangi, hormat dan menyediakan semua kebutuhan dan keinginan beliau...” Ahhh....
Apabila orang tua sudah berpulang, masih ada bakti yang bisa kita lakukan. Ketika itu, datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Rasul shallallahu‘alaihi wa salam menjawab, “Ya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud: Ibnu Maja).
Merendahlah. Jangan pernah bangga dengan sesumbar, “Aku itu sudah mandiri, sudah tidak merepotkan ibu lagi! Malah saking mandirinya nih, aku sudah dua tahun nggak ketemu ibu.”
Apa itu sebuah “prestasi”? Apakah Ibu hanya kita temui ketika momen Idul Fitri? Sebegitu dahsyatnya dunia menghempaskan kasih sayang kita, hingga tak mau ambil pusing dengan kabar Ibunda?

Ketika kabar bahwa Ibu tengah sakit hingga diopname, apa yang kita lakukan? Hanya kirim SMS atau Whats App, ”Bu, maaf aku nggak bisa balik. Sedang banyak kerjaan. Aku transfer uang untuk nambah ongkos beli obat.”

Oh, aduhai... Ibunda tak hanya butuh uang transferanmu. Ibunda juga butuh kehadiranmu. Ambillah cuti. Kunjungi beliau. Berdekat-dekatlah. Pekerjaan yang engkau lakukan mati-matian, tak akan sanggup menggantikan penyesalan, manakala Ibumu harus menghadap Illahi.
Kita kerap malu ketika Ibu hadir di wisuda. Kita malu ketika Ibu menemani kita shopping atau jalan-jalan di mall. Coba kita ingat-ingat, pernahkah Ibunda kita merasa malu manakala menggendong kita yang ingusan dan ngompol ketika kecil? Tidak pernah! Malah ia bangga “memamerkan” kita ke semua orang di kampung.

Dalam pepatah jawa,

“Sak gedene kowe mbales jasane simbokmu, kui mung sak pucuk ireng-e kuku” 

Sebesar apapun kamu membalas jasa ibumu, itu baru sebesar kotoran di ujung kuku. Mulai detik ini, tak ada lagi alasan untuk tak membahagiakan kedua orang tua. Dedikasikan hidup kita untuk memuliakan beliau. Jangan sampai kita bangga silaturahim ke bioskop, nonton superhero Batman Superman, tapi kita malah lalai dan ogah bersilaturahim dengan “the real superhero” alias “superhero sesungguhnya” dalam hidup kita. (*)


We were Brothers

Kalau kalimat judul di atas diberi penekanan dengan kata “sungguh”, tak lain ada dua alasan. Pertama, kalimat itu merujuk pada bahasa Al-Quran. Kalimat di atas adalah petikan firman Allah ta’ala yang terdapat dalam surat Al-Hujuraat ayat 10 : “Innamal mukminuuna ikhwah..Sungguh, mukmin itu bersaudara!”

Kedua, karena kata “sungguh” memiliki makna tersendiri. Yaitu, bermakna semacam sumpah atau dipakai untuk meyakinkan tentang suatu hal. Contoh : “sungguh, ini rasanya enak” atau “sungguh, aku sudah bilang jangan memilih itu”. Biasanya, pengucapan kata “sungguh” dilakukan karena sang pengucap melihat apa yang ia sampaikan rentan diragukan dan tidak dihiraukan. Sehingga iapun harus mengatakan “sungguh”. Di translate ke bahasa jawa, mungkin kita bisa merasakan muatan emosional dari kata sungguh ini : “tuenan”..”tuemen”. Tampak upaya untuk meyakinkan, bahkan upaya itu mungkin sudah berada di titik puncak dan hampir putus asa.

Andai pembaca tahu apa yang ada di hati penulis, seperti itulah perasaan kami ketika menuliskan catatan ini. Berangkat dari harapan yang besar terhadap ummat Islam hari ini. Agar persaudaraan atas dasar iman itu dijunjung tinggi di atas segala-galanya. Lalu demi persaudaraan, berkenan mengesampingkan perbedaan-perbedaan tak prinsip yang berpotensi memecah belah.

Ketahuilah, bahwa kita telah dipersatukan Allah dalam naungan laa ilaaha ilallah. Ya, pada hakikatnya Allah-lah yang membuat kita terlahir Islam, Allah-lah yang membuat kita bersyahadat. Anda tahu, bahwa Allah tak main-main dan tak sembarangan mentakdirkan anda hidup dalam barisan ummat Rosulullah shallallahu alaihi wa sallam. Anda boleh berkhusnudzan, semoga ini adalah rencana baik Allah untuk memberi jalan kemudahan menuju keselamatan akhirat kita. Maka apa yang sudah dipersatukan Allah itu, jangan lagi kita justru cerai beraikan. Hanya karena persoalan perbedaan negara, bangsa, perbedaan mazhab, berbeda pandangan fikih, berbeda kelompok organisasi, lalu kita lupa bahwa laa ilaaha illallah telah meleburkan perbedaan itu semua.

Memang, kita tak bisa keluar dari perbedaan-perbedaan. Jangankan dengan orang lain, dengan istri sendiri saja kita sulit menyamakan semua persepsi. Kalau para sahabat nabi yang terjamin Surga itu sering terjadi perbedaan pendapat dan tak selalu satu suara, justru menjadi pembenaran bahwa Iman tak mensyaratkan keseragaman dalam urusan-urusan cabang (furu’iyah) dan ijtihad fikihnya.
Janganlah kita kehilangan rasa kasih sayang dan cinta kepada saudara seiman. Jangan mudah mencaci, melecehkan, mengkafirkan, menjadikan mereka banyolan, menyebut mereka orang konyol dan sebagainya. Demi Allah bila demikian yang terjadi, yang akan tertawa lebih lebar dan berbangga adalah mereka golongan orang yang membenci Islam. Karena tidaklah mereka menunggu kecuali kehancuran persaudaraan sesama Islam. Allah ta’ala berfirman : “(yaitu) orang-orang (kafir dan munafik) yang menunggu-nunggu (kekalahan) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin).” (QS. An-Nisa : 141)

“Sungguh, mukmin itu bersaudara”, seruan ini kami sampaikan dalam keadaan ingin tumpah air mata. Bagaimana tidak, ketika rasa persaudaraan atas nama Iman itu di uji oleh Allah dengan hadirnya saudara-sudara Rohingya tempo hari, kita hampir-hampir saja gagal melewatinya. Tak terbayang mau diletakkan dimana wajah mukmin kita, bila kaki-kaki kita ikut menendang dan menghalau mereka ke tengah-tengah samudra. Apakah kita sudah kehilangan nurani? Tak takutkah kita andai diantara mereka yang terdzalimi, yang tersakiti hatinya, dan dalam keadaan putus asa lalu Allah menolong mereka. Dan bentuk pertolongan Allah atas sakit hati mereka itu salah satunya adalah membuat perhitungan dengan bangsa Indonesia yang berbangga dengan kebesarannya. Naudzubillah..

Karunia Taman Surga (Raudhoh)

Ternyata, penyebutan nabi mengenai taman Surga tak hanya disematkan kepada raudhah yang ada di Madinah saja. Ada raudhah lain selain raudhah karpet hijau yang ada di Masjid Nabawi. Keutamannya tak jauh beda. Bahkan kalau bukan karena Raudhah “karpet hijau” letaknya ada di kota suci Madinah dan di Masjid Rosulullah, maka keutamaannya kalah besar dibanding Raudhah yang satu ini. Sebab sangat banyak hadits keutamaan yang mengiringinya. Jauh lebih banyak daripada hadits Raudhah Madinah yang hanya didapati pada satu riwayat hadits saja. Yaitu hanya hadits riwayat Bukhori yang berbunyi “diantara rumahku dan mimbarku, terdapat taman diantara taman Surga”.

Penasaran, apakah Raudhah ini?, inilah hadits nabi tentang taman Surga :
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR. Tirmidzi)

Di mana majlis dizkir itu?, ya dimana saja. Dimanapun dan kapanpun ada orang yang berkumpul untuk mengingat Allah, baik dengan cara membaca Al-Quran, berdzikir, atau mengajarkan ilmu agama, maka tempat tersebut telah menjadi Raudhah atau taman Surga. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majlis-majlis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.”

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Taman Surga yang tercipta oleh majlis dzikir ini tak kalah mulia dengan taman Surga yang ada di Madinah sana. Ada banyak hadits dan bahkan ayat Al-Quran yang memperkuat keutamaan majlis dzikir atau Majlis Ilmu tersebut. Sehingga seorang yang mengaku beriman, tak mungkin meninggalkan Majlis dzikir dalam kehidupannya. Bahkan boleh dikata, melihat antusiasme dan berebutannya orang-orang untuk bisa masuk ke area antara rumah dan mimbar nabi karena ia disebut Raudhah, maka sabda nabi bahwa majlis dzikir itu juga Raudhah harusnya sudah lebih dari cukup membuat kita bersemangat memburu majlis dzikir atau majlis ilmu.
Berikut kita akan menengok, dan mencoba merasakan keutamaan lain yang disuguhkan majlis dzikir. Betapa besarnya limpahan karunia yang Allah siapkan bagi mereka yang masuk kedalam Majlis dzikir atau Majlis Ilmu ini.

Akan diangkat derajatnya disisi Allah

Allah subahanahu wa ta’ala berfirman : Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah : 11).