Rabu, 14 September 2016

Dahaga Ruhani

Siapa yang paling tahu kebutuhan Ruhani kita?, jawabnya adalah tentu Sang Pembuatnya.Allah ta’ala, Sang Pencipta ruh manusia itu sendiri yang paling mengerti dan memahami . Adapun manusia, pemilik dan penggunanya, tidak kesemuanya benar-benar memahami kebutuhan Ruhaninya. Justru kebanyakan manusia mengabaikan hajat Ruhaninya dan lebih mementingkan syahwatnya.
Karena Allah subhanahu wa ta’ala yang paling tahu kebutuhan Ruhani, maka Dia memberikan kita seperangkat cara agar ruhani ini terjaga. Diantaranya adalah dengan shalat. Shalat yang paling utama adalah shalat 5 waktu. Lalu diikuti shalat sunnah lainnya.

Mengenai hikmah pembagian shalat 5 waktu itu, hanya Allah semata yang mengetahui. Namun setidaknya, kita bisa mengambil sebagian hikmah dari manfaat yang kita rasakan selama ini. Shalat terbagi-bagi dalam beberapa waktu, seperti menjadi pemberhentian dan rehat bagi kita. Kita hidup di dunia, setiap saat berjibaku dengan kesibukannya, menghadapi fitnah-fitnahnya, di kejar angan-angan. Disadari atau tidak ruhani akan mengalami kelelahan. Sibuknya kita terhadap dunia, lalu jiwa terbawa untuk mencintainya, membuat jiwa keluar dari jalur penghambaannya. Karena tidak mungkin kita bisa menyandingkan kecintaan kepada dunia dengan kecintaan kepada Allah dan akhirat. Allah ta’ala berfirman, “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua kecintaan dalam hatinya” (QS. Al-Ahzab : 4)


Saat keadaan seperti ini kita harus peka dan harus segera rehat. Maka Allah memberikan kewajiban shalat kepada kita. Hadir dalam beberapa waktu, bukan satu waktu. Seperti hausnya kita dan keinginan untuk minum. Kalau kita punya beberapa gelas air, kita tidak akan menghabiskannya dalam satu waktu. Kita akan meminumnya sebagian-sebagian, untuk membasahi tenggorakan dan menyegarkan mulut. Lalu beraktifitas, lalu minum lagi.

Maka bisa dibayangkan keadaan Ruhani orang yang tidak shalat. Dahaga ruhaninya ia abaikan. Sulitnya adalah, ia berada dalam kekeringan ruhani, justru saat “berbasah-basah” dengan gelimang dunia. Ruhaninya berada dalam kesengsaraan, justru saat mereka berada dalam kemewahan. Kalau haus air bisa terasa, tapi kalau haus ruhani, bisa tak terasa sama sekali. Kecuali orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan taufik dari Allah, saat merasa ruhaninya  mulai keruh, mereka bersegera meningkatkan ketaatan kepada Allah.

Apakah shalat bisa menjawab sepenuhnya kebutuhan Ruhani kita?, belum. Shalat yang akan memberikan kesegaran terhadap ruhani bukan sembarang shalat. Ia mensyaratkan khusyuk. Sebab, shalat hanyalah pengantar bagi Ruhani untuk menghadap dan berjumpa dengan yang dirindukannya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau shalat tak sampai membuat Ruhani merasa berjumpa dengan Allah ta’ala, lantaran kehilangan khusyuk, maka shalat kita hampir tak memberikan buah apa-apa. Pribadi yang membawa urusan dunianya kedalam shalatnya, jelas, usai melaksanakan shalat ia tak akan mendapati ruhaninya segar kembali.


Maka beruntunglah mereka yang mendapatkan karunia khusyuk. Ia telah mendapatkan karunia yang begitu mulia. Keruhnya dunia mensyaratkan kita untuk setiap waktu entas dan menyucikan kotorannya. Dan shalat yang khusyuk, adalah sarananya. Wallahu A’lam bisshowab