Siapa yang paling tahu kebutuhan Ruhani kita?, jawabnya
adalah tentu Sang Pembuatnya.Allah ta’ala, Sang Pencipta ruh manusia itu
sendiri yang paling mengerti dan memahami . Adapun manusia, pemilik dan
penggunanya, tidak kesemuanya benar-benar memahami kebutuhan Ruhaninya. Justru
kebanyakan manusia mengabaikan hajat Ruhaninya dan lebih mementingkan
syahwatnya.
Karena Allah subhanahu wa ta’ala yang paling tahu kebutuhan
Ruhani, maka Dia memberikan kita seperangkat cara agar ruhani ini terjaga.
Diantaranya adalah dengan shalat. Shalat yang paling utama adalah shalat 5
waktu. Lalu diikuti shalat sunnah lainnya.
Mengenai hikmah pembagian shalat 5 waktu itu, hanya Allah
semata yang mengetahui. Namun setidaknya, kita bisa mengambil sebagian hikmah
dari manfaat yang kita rasakan selama ini. Shalat terbagi-bagi dalam beberapa
waktu, seperti menjadi pemberhentian dan rehat bagi kita. Kita hidup di dunia,
setiap saat berjibaku dengan kesibukannya, menghadapi fitnah-fitnahnya, di
kejar angan-angan. Disadari atau tidak ruhani akan mengalami kelelahan. Sibuknya
kita terhadap dunia, lalu jiwa terbawa untuk mencintainya, membuat jiwa keluar
dari jalur penghambaannya. Karena tidak mungkin kita bisa menyandingkan
kecintaan kepada dunia dengan kecintaan kepada Allah dan akhirat. Allah ta’ala
berfirman, “Allah sekali-kali tidak
menjadikan bagi seseorang dua kecintaan dalam hatinya” (QS. Al-Ahzab : 4)
Saat keadaan seperti ini kita harus peka dan harus segera
rehat. Maka Allah memberikan kewajiban shalat kepada kita. Hadir dalam beberapa
waktu, bukan satu waktu. Seperti hausnya kita dan keinginan untuk minum. Kalau kita
punya beberapa gelas air, kita tidak akan menghabiskannya dalam satu waktu.
Kita akan meminumnya sebagian-sebagian, untuk membasahi tenggorakan dan
menyegarkan mulut. Lalu beraktifitas, lalu minum lagi.
Maka bisa dibayangkan keadaan Ruhani orang yang tidak
shalat. Dahaga ruhaninya ia abaikan. Sulitnya adalah, ia berada dalam
kekeringan ruhani, justru saat “berbasah-basah” dengan gelimang dunia.
Ruhaninya berada dalam kesengsaraan, justru saat mereka berada dalam kemewahan.
Kalau haus air bisa terasa, tapi kalau haus ruhani, bisa tak terasa sama
sekali. Kecuali orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan taufik dari Allah,
saat merasa ruhaninya mulai keruh,
mereka bersegera meningkatkan ketaatan kepada Allah.
Apakah shalat bisa menjawab sepenuhnya kebutuhan Ruhani
kita?, belum. Shalat yang akan memberikan kesegaran terhadap ruhani bukan
sembarang shalat. Ia mensyaratkan khusyuk. Sebab, shalat hanyalah pengantar
bagi Ruhani untuk menghadap dan berjumpa dengan yang dirindukannya, yaitu Allah
subhanahu wa ta’ala. Kalau shalat tak sampai membuat Ruhani merasa berjumpa
dengan Allah ta’ala, lantaran kehilangan khusyuk, maka shalat kita hampir tak
memberikan buah apa-apa. Pribadi yang membawa urusan dunianya kedalam
shalatnya, jelas, usai melaksanakan shalat ia tak akan mendapati ruhaninya
segar kembali.
Maka beruntunglah mereka yang mendapatkan karunia khusyuk.
Ia telah mendapatkan karunia yang begitu mulia. Keruhnya dunia mensyaratkan
kita untuk setiap waktu entas dan menyucikan kotorannya. Dan shalat yang
khusyuk, adalah sarananya. Wallahu A’lam
bisshowab
